Sudut Pandang Okta
PERJALANAN ke Pulau Enggano saya kira hanya sependek dua-tiga jam, sekejap seperti menyeberang ke pulau wisata. Nyatanya, tubuh ini harus diguncang gelombang selama hampir 13 jam, seperti ditelan ombak samudra Hindia yang tak kenal ampun. Tapi rasa penasaran mengalahkan logika. Apa benar pulau ini tertinggal? Terisolasi? Bahkan disebut-sebut warganya kelaparan?

Pulau Enggano, titik jauh di barat daya Kota Bengkulu, katanya adalah salah satu dari sekian banyak “anak tiri” di rumah besar Indonesia. Secara administratif, ia masuk ke dalam Kabupaten Bengkulu Utara. Satu kecamatan, satu pulau. Penduduknya hanya sekitar empat ribu jiwa. Nama Enggano mencuat di media beberapa waktu lalu, bukan karena prestasi, tapi karena pendangkalan alur Pelabuhan Pulau Baii, satu-satunya pintu keluar masuk pulau ini.
Maka kami pun berangkat pada Senin dini hari (21/7/25), berbekal rasa ingin tahu yang bergolak. Kami wartawan, bukan pengembara, tapi kadang berita terbaik justru menanti di tempat-tempat yang dilupakan.
Disambut Ramah, Dihidangkan Burung Bergam
Begitu kaki menginjak dermaga, suasana langsung berubah. Wajah-wajah yang tak kami kenal menyambut dengan senyum hangat. Ada sesuatu yang khas di sini, kehangatan yang tidak dibuat-buat. Di warung kecil dekat pelabuhan, kami dijamu burung bergam. Nama yang asing di telinga, tapi menggoda di lidah. Dagingnya seperti perpaduan antara sapi dan bebek, lembut, gurih, dan meninggalkan kesan.

Pemilik warung, sebut saja Pak Pekal, bukan asli Enggano, tapi sudah menetap puluhan tahun. Dari mulutnya, keluar pernyataan yang mengejutkan, “Jalannya (Pulau Enggano, red) bagus kok.”
Kami pun semakin ingin tahu. Apakah Enggano benar-benar seperti yang digambarkan di media sosial?
Jalan Mulus, Rumah Kokoh, Warga Tersenyum
Kami melanjutkan perjalanan, mata kami menangkap lebih dari sekadar pemandangan, jalan-jalan beton membelah desa seperti nadi, jembatan-jembatan APBN yang kuat berdiri tanpa ragu, yang dikabarkan dahulu hanya berdiri jembatan-jembatan balok kayu dan jalan bermandi lumpur. Rumah-rumah warga berdinding kokoh, bukan gubuk reyot yang dibayangkan. Ini bukan pulau yang menangis, tapi pulau yang berbisik tenang.

Kades Tedi: “Kami Tidak Pernah Kelaparan!”
Sebelum Maghrib, kami bertemu Kepala Desa Malakoni, Tedi. Suaranya lantang tapi bersahaja, langsung menyanggah isu kelaparan.
“Kami tidak kelaparan! Enggano tidak pernah kekurangan beras. Kami panen padi. Kami punya kebun. Kami bisa makan.”
Pernyataannya tegas, seperti palu yang menghentikan spekulasi. Ia menjelaskan bahwa kapal feri memang tidak setiap hari, tapi tetap ada setiap minggu. “Kapal ikan bahkan nyaris setiap hari keluar masuk,” imbuhnya.
Yuk Mar dan Suku Kok Mai: “Itu Penghinaan bagi Kami”
Usai shalat dan mandi di Masjid Apoho, kami singgah di Kantor Camat yang sedang ramai, kami bertemu Yuk Mar, perempuan dari suku Kok Mai, suku untuk pendatang di Pulau Enggano. Ketika isu “warga kelaparan” kembali disebut, ia bereaksi spontan.
“Itu penghinaan bagi kami. Kami tidak pernah kelaparan.”
Kalimatnya menampar anggapan bahwa Enggano adalah cerita sedih. Yuk Mar, dengan sorot mata yang tajam, menolak dijadikan korban oleh narasi yang tidak mewakili kenyataan.

Enggano, Di Antara Mitos dan Fakta
Enggano memang jauh. Tapi bukan berarti ia tertinggal. Pulau ini seperti mutiara yang tertutup debu. Ia bukan tak bersinar, hanya belum dilihat dari dekat. Cerita-cerita di media sosial kadang hanya potongan dari mozaik yang lebih luas.
Kami mendengar. Kami mencatat. Kami menyaksikan sendiri. Dan yang kami lihat, jalanan baik, rumah layak, masyarakat yang hidup dari alamnya, bukan dari belas kasih.
Hingga tulisan ini diterbitkan, kami masih di Enggano. Masih menelusuri lorong-lorong sunyi pulau ini, mendengar cerita-cerita kecil yang tak tertulis di berita utama. Sebab Enggano bukan hanya titik di peta. Ia adalah wajah lain Indonesia, yang harus dilihat dengan mata jernih dan hati adil.
Penulis adalah wartawan Provinsi Bengkulu.





