Catatan Riswan
SEJAK pasangan Gubernur Helmi Hasan dan Mian dilantik pada 20 Februari 2025, saya melihat satu perubahan yang luar biasa dampaknya mulai terasa luas di Provinsi Bengkulu jalan provinsi mulai diperbaiki secara lebih serius.
Bagi sebagian orang, jalan mungkin hanya dipandang sebagai lapisan aspal yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain. Namun dalam kenyataannya, jalan adalah urat nadi pergerakan ekonomi dan mobilitas masyarakat. Ketika jalan rusak yang terhambat bukan hanya kendaraan, tetapi juga aktivitas perdagangan, distribusi hasil pertanian dan berbagai kegiatan ekonomi lainnya.
Karena itu saya tertarik mencermati angka-angka pembangunan jalan pada tahun pertama pemerintahan ini.
Dalam APBD 2025, pemerintah provinsi mengalokasikan sekitar Rp546,3 miliar hingga Rp600 miliar untuk pembangunan dan perbaikan jalan serta jembatan provinsi. Anggaran tersebut digunakan untuk menangani 22 ruas jalan yang tersebar di hampir seluruh kabupaten.
Angkanya cukup signifikan.
Di Bengkulu Tengah, anggaran pembangunan jalan mencapai sekitar Rp177 miliar. Di Rejang Lebong, sekitar Rp114 miliar dialokasikan untuk memperbaiki beberapa ruas yang selama ini mengalami kerusakan cukup berat. Di Seluma, sekitar Rp85 miliar digunakan untuk membenahi sejumlah ruas jalan strategis. Di Bengkulu Utara, sekitar Rp55 miliar. Di Lebong, sekitar Rp50 miliar. Sementara Mukomuko dan Kaur masing-masing sekitar Rp12,5 miliar, serta Bengkulu Selatan sekitar Rp2 miliar.
Beberapa proyek bahkan bernilai cukup besar. Misalnya ruas Lubuk Sini – Lubuk Durian di Bengkulu Tengah dengan nilai sekitar Rp87 miliar, serta peningkatan jalan Simpang Tugu Hiu – Tugu Kroya sekitar Rp5 miliar.
Program ini mulai berjalan sejak Juni 2025 dan menjadi bagian dari upaya besar memperbaiki sekitar 1.100 kilometer jalan provinsi. Pemerintah provinsi juga menargetkan dalam tiga tahun sekitar Rp2–2,5 triliun akan digelontorkan agar 95 persen jalan provinsi berada dalam kondisi baik.
Bagi sebagian orang, angka ratusan miliar rupiah itu mungkin hanya terlihat sebagai deretan angka dalam dokumen anggaran.
Namun dalam praktiknya, jalan yang baik membawa dampak nyata: waktu tempuh menjadi lebih singkat, biaya transportasi lebih efisien, distribusi barang lebih lancar, dan aktivitas ekonomi masyarakat dapat bergerak lebih cepat.
Saya sering mengatakan kepada teman-teman, selain kebutuhan terhadap jaringan komunikasi yang baik, akses jalan yang layak juga menjadi fondasi penting bagi kemajuan daerah.
Karena ketika jalan mulai membaik, yang bergerak bukan hanya kendaraan.
Akses, aktivitas ekonomi dan harapan pembangunan ikut melaju.
Sidomulyo–Bengkulu
Penulis Founder Langit Biru Foundation – Mahasiswa Pascasarjana MET & MM FEB Universitas Bengkulu





