Benarkah Rotasi Bumi Bisa Berhenti? Ini Penjelasan Ilmiah dan Dampaknya
Benarkah Rotasi Bumi Bisa Berhenti? Ini Penjelasan Ilmiah dan Dampaknya / Foto: Oliver Hull/Monash University/Ilustrasi Bumi

Benarkah Rotasi Bumi Bisa Berhenti? Ini Penjelasan Ilmiah dan Dampaknya

Diposting pada
Editor: Oktaliansyah

Jakarta – Perputaran Bumi yang selama ini menjadi penentu siang dan malam ternyata tidak bersifat konstan, dan secara ilmiah terus melambat dari waktu ke waktu, memunculkan pertanyaan publik soal kemungkinan rotasi planet ini berhenti, Senin 10 Februari 2026.

Dikutip dari detik, Bumi diketahui berotasi sekitar 24 jam sekali. Meski manusia tidak merasakan langsung pergerakannya karena pengaruh gravitasi, dampak rotasi terlihat jelas melalui pergantian siang dan malam, perbedaan zona waktu, gerak semu harian Matahari, hingga pembelokan angin dan arus laut.

Pertanyaan mengenai potensi berhentinya rotasi Bumi kerap muncul seiring temuan ilmiah terbaru. Jawaban sederhananya, rotasi Bumi tidak mungkin berhenti secara tiba-tiba kecuali terjadi tabrakan kosmik berskala ekstrem. Namun demikian, para ilmuwan memastikan bahwa rotasi planet ini memang terus melambat secara bertahap.

Berdasarkan perkiraan Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, laju rotasi Bumi saat ini melambat sekitar 1 hingga 2 milidetik setiap abad.

“Untuk periode dari tahun 2000 hingga 2018, laju peningkatan panjang hari akibat pergerakan es dan air tanah 1,33 milidetik per abad lebih cepat daripada periode mana pun dalam 100 tahun sebelumnya, ketika laju tersebut bervariasi dari 0,3 hingga 1,0 milidetik per abad,” jelas NASA, seperti dikutip dari IFL Science.

Jika ditarik jauh ke masa lalu, sekitar 600 juta tahun lalu, satu hari di Bumi hanya berlangsung sekitar 21 jam. Perubahan panjang hari ini menjadi signifikan dalam skala jutaan tahun. Faktor utama perlambatan rotasi berasal dari gesekan pasang surut antara Bumi dan Bulan.

“Bulan secara perlahan menjauh dari Bumi sekitar 4 cm per tahun, dan energi yang mendorong pergeseran ini sebagian besar diambil dari lautan Bumi. Tarikan gravitasi Bulan membuat permukaan laut menonjol, dan interaksi ini menghasilkan gesekan yang tidak hanya memperlambat rotasi Bumi, tetapi juga memengaruhi kecepatan orbit Bulan,” papar NASA.

Selain pengaruh Bulan, perubahan iklim serta pergeseran massa air di Bumi juga berkontribusi terhadap pemanjangan hari, meski dampaknya lebih kecil.

“Jika emisi terus meningkat, pemanjangan hari akibat perubahan iklim dapat mencapai hingga 2,62 milidetik per abad, melampaui efek tarikan Bulan terhadap pasang surut,” tambah mereka.

Dalam jangka waktu yang sangat panjang, para peneliti menyebut Bumi berpotensi mengalami penguncian pasang surut dengan Bulan, jika sistem ini terus berinteraksi tanpa gangguan kosmik lain.

“Sekitar 50 miliar tahun dari sekarang – jika Bulan dan Bumi entah bagaimana dapat menghindari kematian Matahari – Bulan akan berada sangat jauh, dan orbitnya sangat besar, sehingga Bumi juga akan terkunci secara pasang surut dengan Bulan,” ujar NASA.

Namun, skenario tersebut dinilai kecil kemungkinannya terjadi karena Matahari diperkirakan akan memasuki fase raksasa merah dan menelan Bumi sekitar 7,6 miliar tahun mendatang.

Jika secara hipotetis rotasi Bumi benar-benar berhenti secara mendadak dari kecepatan sekitar 1.600 kilometer per jam, dampaknya akan bersifat katastrofik. Air, batuan, dan puing-puing akan terlempar ke arah timur, merusak permukaan planet.

“Pecahan-pecahan tersebut kemudian akan ditarik kembali oleh gravitasi Bumi, membombardir planet ini dari waktu ke waktu dan mencairkan kerak Bumi menjadi ‘samudra batuan’ yang cair,” kata James Zimbelman, ahli geologi senior emeritus di Museum Dirgantara dan Luar Angkasa Nasional Smithsonian di Washington DC, dikutip dari Live Science.

Profesor fisika dan astronomi Universitas Negeri Bowling Green, Ohio, Andrew Layden, menjelaskan bahwa semua material di permukaan Bumi akan ikut bergerak.

“Jadi, benda-benda itu [akan] terpisah dari permukaan dan terus berputar-putar, (yang) pada dasarnya, dalam orbit rendah di sekitar Bumi,” katanya, dikutip dari Space.

Tanpa gaya sentrifugal akibat rotasi, air laut akan berpindah ke wilayah kutub. Kedalaman laut di sekitar khatulistiwa diperkirakan berkurang hingga 8 kilometer, membentuk dua samudra besar di kutub yang dipisahkan sabuk daratan kering di tengah planet.

Selain itu, jika Bumi tidak berotasi, satu hari akan berlangsung selama satu tahun. Kondisi ini akan memanaskan permukaan planet secara ekstrem hingga suhu melebihi 100 derajat Celsius, terutama di wilayah benua besar, sementara danau serta sungai yang tersisa perlahan menguap dan terdorong angin kencang menuju kutub.

Gambar Gravatar
Penulis artikel kesehatan, keuangan, Islam, sepak bola, olahraga, dan prediksi bola yang menghadirkan informasi terbaru, akurat, informatif, dan mudah dipahami pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *