Alaku

Bocah SD Boyolali Raih Apresiasi NASA Usai Temukan Celah Keamanan Sistem Publik

Bocah SD Boyolali Raih Apresiasi NASA Usai Temukan Celah Keamanan Sistem Publik (Foto: Dok Ibrahim Al Abra)

Boyolali – Ibrahim Al Abrar, siswa kelas 6 SD Negeri 3 Genengsari, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menerima surat apresiasi resmi dari National Aeronautics and Space Administration (NASA) setelah berhasil menemukan dan melaporkan celah keamanan pada salah satu domain publik lembaga antariksa Amerika Serikat tersebut. Penghargaan itu diterima pada 9 Juli 2026 melalui program Vulnerability Disclosure Policy (VDP) NASA.

Pencapaian Ibra menjadi perhatian karena diraih di usia 11 tahun. Bocah yang akan genap berusia 12 tahun pada 25 Juli itu mempelajari pemrograman dan keamanan siber secara otodidak dari desa di kawasan pinggiran Waduk Kedungombo, sekitar 40 kilometer dari pusat Kota Boyolali.

Minat Ibra terhadap teknologi bermula dari kegemarannya bermain gim di ponsel. Sang ayah, Aminudin Salas, yang berprofesi sebagai guru Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), kemudian mengarahkan putranya untuk belajar membuat gim, bukan sekadar memainkannya.

“Daripada cuma main game, saya tanya apa tidak tertarik belajar bikin game. Dari situ dia mulai belajar koding,” ujar Aminudin, seperti dikutip dari detikJateng.

Sejak duduk di kelas 4 SD, Ibra belajar pemrograman secara mandiri melalui YouTube, internet, dan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). Dalam enam bulan terakhir, ia mulai fokus mendalami bidang keamanan siber yang kini menjadi cita-citanya.

Ketertarikan itu muncul setelah membaca kisah para peneliti keamanan yang menemukan kerentanan pada sistem NASA. Terinspirasi pengalaman tersebut, Ibra mencoba melakukan hal serupa dengan mengikuti jalur pelaporan resmi melalui program VDP.

Keberhasilannya tidak diraih dalam sekali percobaan. Aminudin mengungkapkan putranya telah empat kali mengirim laporan kerentanan ke NASA. Satu laporan dinyatakan sebagai duplikat, satu ditolak, satu berhasil diverifikasi hingga memperoleh surat apresiasi, sementara satu laporan lainnya telah berstatus approved dan masih menunggu tindak lanjut.

Kerentanan yang berhasil ditemukan Ibra merupakan bug bertipe broken link hijacking pada salah satu domain publik NASA. Setelah diverifikasi, laporannya dinyatakan valid oleh tim NASA.

“Alhamdulillah, senang,” kata Ibra singkat saat menceritakan perasaannya setelah menerima surat penghargaan tersebut.

Ibra mengaku proses belajar keamanan siber tidak selalu mudah. Banyak istilah teknis yang harus dipahami secara mandiri. Ketika menemui kesulitan, ia memanfaatkan video pembelajaran di YouTube dan berdiskusi dengan AI untuk memahami berbagai konsep teknologi informasi.

Meski Aminudin memiliki latar belakang di bidang teknologi informasi, ia mengaku tidak mendalami keamanan siber sehingga putranya berkembang hampir sepenuhnya melalui pembelajaran mandiri.

“Kalau saya memang ada basic IT tapi nggak ke cybersecurity. Benar-benar awam kalau cybersecurity,” ujar Aminudin.

Melihat kesungguhan putranya, keluarga memberikan dukungan dengan menyediakan perangkat belajar secara bertahap, mulai dari telepon genggam, komputer bekas, hingga sebuah laptop. Aminudin berharap apresiasi dari NASA menjadi langkah awal bagi Ibra untuk terus mengembangkan kemampuannya hingga kelak berkarier sebagai profesional di bidang keamanan siber.

“Semoga setelah mendapat apresiasi dari NASA, dia semakin semangat belajar. Siapa tahu nanti bisa mendapatkan bug bounty dan akhirnya benar-benar menjadi profesional di bidang cybersecurity,” tutupnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan