BPS Catat Inflasi Bengkulu 2,52 Persen, Tarif Listrik hingga Emas Jadi Pemicu
BPS Catat Inflasi Bengkulu 2,52 Persen, Tarif Listrik hingga Emas Jadi Pemicu (dok:bpsbkl)

BPS Catat Inflasi Bengkulu 2,52 Persen, Tarif Listrik hingga Emas Jadi Pemicu

Diposting pada
Editor: Mahmud Yunus

Bengkulu – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bengkulu mencatat inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) di Kota Bengkulu pada Maret 2026 mencapai 2,52 persen. Kenaikan harga ini terjadi dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 108,91, di tengah inflasi bulanan 0,10 persen dan deflasi tahun kalender atau year to date (y-to-d) sebesar 0,02 persen.

Data tersebut disampaikan Kepala BPS Kota Bengkulu Iin Inayati dalam Press Release Berita Resmi Statistik (BRS) Maret 2026 yang digelar di Kantor BPS Kota Bengkulu, Rabu (1/4/2026). Kegiatan itu turut dihadiri dinas terkait, statistisi BPS, serta perwakilan media massa.

Iin menjelaskan, inflasi tahunan dipicu kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran utama. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat naik 3,59 persen dan menjadi salah satu penopang utama inflasi di daerah.

Selain itu, kenaikan juga terjadi pada kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,40 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 7,07 persen, serta kelompok transportasi sebesar 1,42 persen. Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan ikut naik 0,26 persen, disusul kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,09 persen.

Kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran tercatat mengalami kenaikan 1,76 persen. Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi yang tertinggi dengan inflasi mencapai 10,06 persen.

Di sisi lain, tidak semua kelompok pengeluaran mengalami kenaikan. BPS mencatat deflasi terjadi pada kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,63 persen, kelompok kesehatan sebesar 1,09 persen, serta kelompok pendidikan sebesar 8,31 persen.

Menurut BPS, penyumbang utama inflasi tahunan berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 1,06 persen. Sejumlah komoditas yang paling dominan mendorong inflasi yakni tarif listrik, emas perhiasan, daging ayam ras, ikan dencis, dan Sigaret Kretek Mesin (SKM).

Sementara penyumbang utama deflasi tahunan berasal dari kelompok pendidikan dengan andil 0,51 persen. Komoditas yang dominan menahan laju inflasi antara lain Sekolah Menengah Atas, cabai merah, bensin, tarif rumah sakit, dan bawang putih.

Untuk inflasi bulanan atau month to month (m-to-m), BPS mencatat angka 0,10 persen pada Maret 2026. Pendorong utamanya berasal dari kelompok makanan dan minuman/restoran dengan andil sebesar 0,06 persen.

Komoditas yang dominan menyumbang inflasi bulanan meliputi daging ayam ras, bakso siap santap, bensin, Sigaret Kretek Mesin (SKM), dan angkutan antarkota. Kenaikan harga pada komoditas tersebut disebut menjadi faktor utama pergerakan inflasi Maret.

Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya justru menjadi penyumbang utama deflasi bulanan dengan andil 0,05 persen. Komoditas yang dominan menekan inflasi antara lain cabai merah, angkutan udara, emas perhiasan, popok bayi sekali pakai atau diapers, serta bawang merah.

Rilis statistik Maret 2026 ini menjadi gambaran terbaru pergerakan harga di Kota Bengkulu. Dengan inflasi tahunan yang masih terkendali di level 2,52 persen, perhatian pemerintah dan pemangku kepentingan kini tertuju pada stabilitas harga komoditas utama yang paling memengaruhi daya beli masyarakat.

Gambar Gravatar
Penulis artikel kesehatan, keuangan, Islam, sepak bola, olahraga, dan prediksi bola yang menghadirkan informasi terbaru, akurat, informatif, dan mudah dipahami pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *