Alaku

Ini Delapan Blok Rare Earth Indonesia yang Jadi Incaran Industri Global

Ini Delapan Blok Rare Earth Indonesia yang Jadi Incaran Industri Global

Jakarta – Potensi logam tanah jarang atau rare earth di Indonesia kembali mencuri perhatian setelah pemerintah mengungkap keberadaan sumber daya strategis tersebut di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, Senin, 9 Februari 2026, dalam rapat kerja bersama DPR RI.

Berdasarkan paparan Kepala Badan Industri Mineral Brian Yuliarto yang dikutip dari detik, terdapat delapan blok utama yang dinilai memiliki cadangan logam tanah jarang dengan potensi besar dan bersifat sumber daya primer. “Ada 8 Blok yang kami nilai memiliki potensi yang sangat besar. Ini semuanya adalah Primary Resources. Jadi bukan by-product resources. Tapi kami lihat di beberapa titik nantinya akan bisa didukung dari by-products-nya,” ujar Brian dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI, Senin (9/2/2026).

Brian menjelaskan, saat ini pihaknya masih melakukan kajian mendalam terhadap seluruh blok tersebut. Hasil penelitian nantinya akan dikoordinasikan dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk dirumuskan dalam bentuk rekomendasi pengelolaan.

Ia menambahkan, pemerintah mendorong agar pengelolaan izin usaha pertambangan logam tanah jarang diserahkan kepada badan usaha milik negara. “Sehingga pengelolaan ininya, pengelolaan IUP-nya dapat diberikan kepada Badan Usaha Milik Negara sebagaimana diminta oleh Bapak Presiden bahwa karena rare earth ini adalah industri yang strategis, maka didorong agar penguasaannya dilakukan oleh badan usaha di bawah BUMN,” jelas Brian.

Adapun delapan blok yang tercatat memiliki kandungan logam tanah jarang tersebar di Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara. Blok Toboali di Bangka Belitung menyimpan tungsten sekitar 8.287 ppm, rare earth elements 2.391 ppm, serta tantalum di area sekitar 10.000 hektare. Sementara Blok Keposang di wilayah yang sama memiliki kandungan rare earth sekitar 1.000 ppm di lahan 5.000 hektare.

Blok Mentikus di Bangka Belitung mengandung timah 23.400 ppm dan tungsten 9.000 ppm di area 200 hektare, sedangkan Blok Batubesi menyimpan timah 5.000 ppm dan tungsten 2.500 ppm di lahan seluas 500 hektare. Di Kalimantan Barat, Blok Melawi memiliki potensi rare earth elements mencapai sekitar 81.720 ppm di area 54.000 hektare, sementara Blok Boyan Hulu menjadi target utama antimony dengan kadar sekitar 70 hingga 95 persen di lahan 8.492 hektare.

Untuk wilayah Sulawesi, Blok Mamuju di Sulawesi Barat mengandung rare earth elements sekitar 2.000 ppm di area 23.000 hektare. Sementara Blok Bombana di Sulawesi Tenggara tercatat memiliki kandungan rare earth 220 ppm serta antimony sekitar 6.170 ppm di lahan seluas 64.000 hektare.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan