Alaku

Mahasiswa KPM UIN Sultanah Nahrasiyah Belajar Filosofi Sayur Pliek Bersama Warga Bireuen

Mahasiswa KPM UIN Sultanah Nahrasiyah Belajar Filosofi Sayur Pliek Bersama Warga Bireuen (dok:istimewa)

BireuenMahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Mandiri Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe mempelajari filosofi sayur pliek, kuliner tradisional khas Aceh, melalui kegiatan memasak bersama masyarakat Gampong Blang Lancang, Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen, Sabtu (25/7/2026). Kegiatan ini menjadi sarana mengenal lebih dekat warisan budaya lokal sekaligus mempererat hubungan mahasiswa dengan warga selama menjalankan program pengabdian.

Memasuki waktu makan siang sekitar pukul 12.10 WIB, mahasiswa KPM bersama ibu-ibu gampong bergotong royong menyiapkan kuah pliek, hidangan yang telah diwariskan turun-temurun dan masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Dalam proses tersebut, mahasiswa diperkenalkan pada bahan utama kuah pliek, yakni pliek u, ampas kelapa yang diolah melalui proses fermentasi dan pengeringan alami. Bahan tersebut dipadukan dengan beragam sayuran lokal seperti daun melinjo, kacang panjang, nangka muda, daun pepaya, dan terong, serta rempah-rempah khas Aceh yang menghasilkan cita rasa gurih dengan aroma khas.

Bagi masyarakat Aceh, sayur pliek tidak sekadar menjadi menu sehari-hari. Hidangan ini mencerminkan nilai kesederhanaan, rasa syukur, serta kebijaksanaan leluhur dalam memanfaatkan seluruh bagian kelapa agar tidak terbuang sia-sia.

Keberagaman bahan yang berpadu dalam satu masakan juga dimaknai sebagai simbol persatuan dan semangat gotong royong yang telah lama tumbuh di tengah masyarakat. Tak heran, kuah pliek kerap hadir dalam kenduri, acara keluarga, maupun berbagai kegiatan sosial di gampong.

Salah seorang warga Gampong Blang Lancang yang mendampingi kegiatan tersebut mengatakan kuah pliek memiliki sejarah panjang dalam kehidupan masyarakat Aceh dan tetap dipertahankan hingga sekarang.

“Kuah pliek ini sudah ada sejak zaman orang tua kita dahulu. Ampas kelapa tidak dibuang, tetapi diolah kembali menjadi pliek u yang bisa digunakan untuk memasak. Sampai sekarang makanan ini masih sering dibuat karena rasanya yang khas dan mengingatkan kita pada masakan orang tua zaman dulu,” ujarnya.

Ia menambahkan, proses memasak kuah pliek hampir selalu dilakukan secara bersama-sama sehingga memiliki makna sosial yang kuat.

“Kalau memasak kuah pliek biasanya banyak yang ikut membantu, mulai dari membersihkan bahan, menyiapkan bumbu, sampai memasaknya. Jadi bukan hanya tentang makanannya, tetapi juga tentang kebersamaan dan hubungan silaturahmi antarwarga,” katanya.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KPM Mandiri UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe tidak hanya memperoleh pengalaman mengolah makanan tradisional, tetapi juga memahami sejarah, filosofi, dan nilai budaya yang melekat pada sayur pliek. Mereka berharap pengalaman ini dapat memperkuat hubungan dengan masyarakat Gampong Blang Lancang sekaligus menjadi bagian dari upaya melestarikan warisan kuliner Aceh agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan