Sudut Pandang Okta
SEMALAM saya menghadiri undangan di sebuah musholla di Kota Bengkulu. Undangan itu bukan sekadar ajakan biasa, melainkan permintaan untuk turut menjadi panitia pelaksana qurban tahun ini. Musholla tersebut mendapat kepercayaan dari jamaah untuk menyembelih sebanyak 11 ekor sapi. Angka yang cukup besar, mengingat beberapa tahun lalu hanya 9 sapi. Kenaikan ini bukan hanya statistik, tapi mencerminkan bertumbuhnya kesadaran dan kepedulian sosial warga sekitar.
Pelaksanaan qurban memang masih beberapa hari lagi, namun suasana malam itu sudah terasa hangat oleh semangat kebersamaan. Di antara diskusi pembagian tugas dan logistik, saya teringat pesan seorang ustadz saat saya masih di asrama dulu. Beliau sering mengingatkan, “Sampaikanlah walau satu ayat.” Sebuah kalimat yang melekat hingga kini.
Maka pada momen Iduladha kali ini, izinkan saya menyelipkan satu ayat yang sangat menyentuh hati, khususnya dalam konteks qurban:
“Tidaklah daging-daging dan darah-darah itu sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian…”
(QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini begitu kuat maknanya. Allah tidak butuh daging. Allah tidak memerlukan darah. Tapi Allah menilai ketakwaan, niat, dan keikhlasan yang ada di balik setiap pengorbanan. Jadi, qurban bukan soal besar atau kecilnya hewan yang disembelih, tapi tentang seberapa tulus kita menjalankannya sebagai bentuk ketaatan dan kepedulian.
Saya kembali teringat pada kisah Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS, kisah pengorbanan sejati yang menjadi landasan ibadah qurban. Saat Nabi Ibrahim diperintahkan Allah untuk menyembelih anaknya, beliau patuh tanpa ragu. Ismail pun tidak menolak, bahkan berkata dengan penuh keyakinan, “Laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. As-Saffat: 102)
Dari kisah itu kita belajar, bahwa qurban adalah tentang melepaskan keterikatan terhadap hal-hal duniawi, dan menggantinya dengan ketaatan yang total kepada Sang Pencipta.
Di musholla tempat saya diundang itu, saya melihat semangat yang tidak bisa dianggap remeh. Panitia yang bekerja dengan sukarela, warga yang bahu-membahu dalam persiapan, dan anak-anak muda yang siap membantu saat hari-H nanti. Semua itu mencerminkan esensi qurban yang sejati, pengorbanan, kebersamaan, dan ketulusan.
Qurban memang tentang menyembelih hewan, tapi yang lebih penting adalah menyembelih rasa egois dalam diri. Memberi daging kepada orang yang jarang menikmatinya bukan hanya soal berbagi, tapi juga tentang membangun jembatan empati dan solidaritas.
Malam itu saya pulang dengan hati penuh syukur. Bukan karena saya akan mendapat bagian daging, tapi karena saya menyaksikan bagaimana nilai-nilai Islam hidup dan tumbuh di tengah masyarakat. Dari musholla kecil di tengah kota ini, semangat besar terpancar, semangat untuk berbagi, untuk tunduk kepada perintah Allah, dan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Semoga semangat qurban tahun ini menjadi jalan bagi kita semua untuk semakin mendekat kepada Allah, dan semakin peka terhadap sesama manusia. Karena pada akhirnya, yang sampai kepada-Nya bukanlah daging atau darah, tetapi ketakwaan yang tersembunyi dalam dada.





