Sudut Pandang Okta
BEBERAPA HARI LALU, tepatnya Rabu (21/5/25) saya melangkah ke salah satu kantor Bank BUMN di Bengkulu untuk keperluan membuka rekening giro, sebuah langkah kecil namun penting bagi kelangsungan usaha pembuatan website yang saya rintis. Tak disangka, pengalaman sederhana ini berubah menjadi momen yang membekas.
Begitu melewati pintu masuk, saya disambut senyum hangat dari dua satpam, seorang pria dan wanita. “Ada yang bisa dibantu, Pak?” sapa satpam wanita dengan ramah. “Saya mau buat rekening giro,” jawab saya singkat. Tanpa banyak basa-basi, beliau langsung menyerahkan nomor antrian.
Suasana bank kala itu cukup tenang. Nasabah duduk menunggu panggilan, beberapa pegawai tampak sibuk di meja masing-masing. Namun tepat pukul 10.00 WIB, kejadian tak biasa membuat saya terdiam. Tiba-tiba terdengar lagu kebangsaan Indonesia Raya diputar dari pengeras suara.
“Dimohon berdiri sejenak,” ujar sang satpam pria. Seketika semua orang berdiri, nasabah, pegawai, hingga satpam sendiri. Tak ada paksaan, tak ada keraguan. Semua berdiri dalam diam dengan sikap sempurna. Bulu kuduk saya merinding. Dalam ruangan berpendingin udara itu, justru ada rasa hangat yang menyusup, rasa cinta tanah air.
Tak lama setelah itu, rasa penasaran mendorong saya mencari tahu. Dari hasil pencarian, saya menemukan bahwa momen tersebut bukan kejutan semata, melainkan bagian dari kebijakan resmi Kementerian BUMN. Tertuang dalam Surat Edaran Nomor SE-8/MBU/S/11/2024, seluruh kantor pusat, cabang, hingga proyek BUMN diinstruksikan untuk memperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya setiap hari pukul 10.00 waktu setempat. Surat ini ditandatangani oleh Sekretaris Kementerian BUMN, Rabin Indrajad Hattari, pada 11 November 2024.
Tujuan dari kebijakan ini jelas, membangkitkan semangat nasionalisme, menyatukan semangat kerja, dan menumbuhkan rasa bangga sebagai bagian dari NKRI. Tak hanya pegawai, tamu dan pengunjung pun diwajibkan berdiri tegak dengan sikap sempurna selama lagu dikumandangkan.
Kebijakan yang awalnya mungkin terdengar administratif ini, nyatanya berhasil menyentuh sisi emosional saya sebagai warga biasa. Dalam dunia yang makin serba cepat, kadang kita lupa untuk sejenak berhenti, berdiri, dan mengingat siapa diri kita dan di mana kita berpijak.
Membuka rekening giro pagi itu memang tujuan awal saya. Tapi lebih dari itu, saya pulang dengan sesuatu yang lebih berharga, semangat nasionalisme yang diperbarui dan rasa bangga melihat Indonesia Raya masih mampu menyatukan kita, bahkan di ruang tunggu sebuah bank.
Semoga kebijakan seperti ini bukan hanya seremonial, tapi mampu terus menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air, terutama di ruang-ruang publik yang sering kita anggap biasa. Karena dari hal-hal sederhana, seperti berdiri untuk lagu kebangsaan, cinta negeri ini bisa kembali tumbuh.
Penulis adalah wartawan di Bengkulu





