Jakarta – Industri baja nasional kembali mendapat sorotan setelah perusahaan asal Jepang, Osaka Steel Co, Ltd., memutuskan menghentikan operasional pabrik anak usahanya di Indonesia, PT Krakatau Osaka Steel, menyusul tekanan keuangan yang tak lagi mampu ditahan.
Kementerian Perindustrian membenarkan rencana penutupan tersebut. Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan pemerintah telah menerima dan mengonfirmasi informasi terkait berhentinya operasional PT Krakatau Osaka Steel.
“Oh iya, sudah (dapat kabar penutupan PT Krakatau Osaka Steel),” kata Faisol Riza saat ditemui di Kompleks DPR RI, Rabu (4/2/2026).
Faisol menjelaskan, keputusan tersebut diambil oleh manajemen pusat Osaka Steel di Jepang setelah perusahaan mengalami kesulitan finansial yang berdampak langsung pada daya saing usaha di Indonesia.
“Kalau itu memang ada indikasi bahwa perusahaan Osaka Steel memang memiliki kesulitan keuangan,” terangnya.
Ia menambahkan, kondisi pasar yang semakin kompetitif membuat perusahaan induk menilai operasional di Indonesia tidak lagi berkelanjutan.
“Jadi memang ada call dari pusat bahwa mereka tidak bisa bersaing dengan yang lain-lain dan kesulitan keuangan sehingga mereka akhirnya memutuskan untuk menutup,” sambung Faisol.
Mengacu pada catatan detik finance, PT Krakatau Osaka Steel merupakan perusahaan patungan yang dibentuk pada 2014 antara Osaka Steel Co, Ltd. dengan PT Krakatau Steel (Persero). Penandatanganan perjanjian definitif dilakukan oleh Presiden Direktur PT Krakatau Steel Irvan K Hakim bersama Presiden Direktur Osaka Steel Junji Uchida di Jakarta pada awal September 2014.
Pabrik PT Krakatau Osaka Steel berlokasi di Kawasan Industri Krakatau, Cilegon, dengan luas lahan mencapai 21,6 hektare. Modal disetor perusahaan tercatat sebesar US$70 juta, dengan komposisi kepemilikan saham 80 persen dipegang Osaka Steel dan 20 persen oleh PT Krakatau Steel.
Fasilitas produksi baja tersebut mulai beroperasi secara komersial pada 25 Januari 2017. Pada saat pendirian, total investasi yang digelontorkan untuk pembangunan pabrik mencapai US$220 juta atau sekitar Rp2,8 triliun, dengan kurs saat itu sekitar Rp13.000 per dolar Amerika Serikat.





