Alaku

Jakarta – Kebiasaan memindai QR code tanpa verifikasi kini menjadi ancaman nyata bagi pengguna Android dan iPhone. Praktik yang terlihat sepele ini membuka celah bagi kejahatan siber untuk mengambil alih ponsel, mencuri data pribadi, hingga menguras rekening digital, sebagaimana diungkap dalam laporan detikinet.

QR code memang memudahkan berbagai aktivitas, mulai dari mengakses situs web, memasang aplikasi, masuk ke layanan digital, hingga melakukan pembayaran nontunai. Namun di balik kepraktisan tersebut, jutaan pengguna disebut telah menjadi sasaran QR code palsu yang sengaja dirancang untuk menjebak dan mencuri informasi sensitif, menurut pemberitaan detikinet.

Salah satu modus yang kini marak dikenal dengan istilah brushing. Dalam skema ini, pelaku mengirim paket misterius ke alamat korban dengan menyertakan QR code palsu tanpa identitas pengirim. Rasa penasaran mendorong korban memindai kode tersebut, yang justru membuka jalan bagi pencurian data dan penipuan lanjutan, seperti dilaporkan detikinet.

Temuan perusahaan keamanan siber NordVPN menunjukkan tren kejahatan ini terus meningkat. Berdasarkan riset mereka, lebih dari 26 juta orang diperkirakan pernah diarahkan ke situs berbahaya melalui QR code palsu tanpa menyadarinya.

“QR code telah menjadi gerbang tersembunyi bagi penjahat siber. Tidak seperti email phishing tradisional, di mana orang telah belajar mengenali tanda-tanda peringatan, QR code fisik seringkali terasa dapat dipercaya,” kata Marijus Briedis, kepala teknologi di NordVPN.

“Perlakukan setiap QR code yang tidak terduga dengan kehati-hatian yang sama seperti yang Anda berikan pada tautan dari pengirim yang tidak dikenal di kotak masuk Anda,” sarannya, seperti dikutip detikinet dari Mirror, Kamis (5/2/2026).

Untuk menghindari risiko tersebut, pengguna disarankan memastikan asal QR code sebelum memindainya, memeriksa tautan tujuan yang biasanya bisa dilihat lebih dulu di ponsel, menjaga pembaruan sistem keamanan, serta menggunakan VPN saat berselancar di internet. Edukasi kepada keluarga dan kerabat yang kurang akrab dengan teknologi juga dinilai penting, karena kelompok ini kerap menjadi sasaran empuk penipu digital, sebagaimana disarankan dalam laporan detikinet.

QR code sendiri pertama kali dikembangkan pada 1994 oleh Masahiro Hara dan tim Denso Wave di Jepang untuk melacak komponen otomotif. Seiring waktu, teknologi ini berkembang pesat dan digunakan secara luas di berbagai sektor, mulai dari pemasaran, tiket, hingga pembayaran digital, dengan lonjakan popularitas signifikan pada era pandemi COVID-19.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan