Rukyatul Hilal vs Hisab: Metode Penentuan Awal Ramadhan
Rukyatul Hilal vs Hisab/ foto dok antara foto

Sains Prediksi Awal Ramadan 1447 H Berpotensi Berbeda, Ini Penjelasan Astronominya

Diposting pada
Editor: Mahmud Yunus

Jakarta – Penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah pada 2026 diperkirakan berpotensi berbeda akibat penggunaan kriteria astronomi yang tidak sama. Berdasarkan penjelasan ilmiah yang dihimpun detik dari data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), perbedaan tersebut bukan disebabkan posisi hilal yang sulit diamati, melainkan perbedaan pendekatan antara hilal lokal dan hilal global.

Koordinator Kelompok Riset Astronomi dan Observatorium Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa sumber perbedaan awal puasa tahun ini terletak pada cakupan wilayah penentuan hilal. “Akan ada perbedaan penentuan awal Ramadan 1447. Sumber perbedaan bukan seperti sebelumnya yang terkait posisi hilal, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan ‘hilal lokal’ dan ‘hilal global’,” kata Djamaluddin saat dihubungi Kamis (5/2/2026), seperti dikutip detikNews.

Ia menjelaskan, kriteria hilal lokal yang digunakan pemerintah melalui Kementerian Agama serta mayoritas organisasi kemasyarakatan Islam mensyaratkan hilal harus terlihat di wilayah Indonesia dengan ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Sementara itu, kriteria hilal global yang digunakan Muhammadiyah menetapkan awal bulan baru jika hilal sudah memenuhi syarat visibilitas di belahan bumi mana pun, dengan catatan konjungsi terjadi sebelum fajar di Selandia Baru.

Berdasarkan perhitungan astronomi BMKG, konjungsi geosentrik diprediksi terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, pukul 19.01 WIB. Karena peristiwa ini terjadi setelah matahari terbenam di Indonesia, posisi hilal pada petang hari tersebut masih berada di bawah ufuk. Ketinggian hilal tercatat berkisar antara minus 2,41 derajat di Jayapura hingga minus 0,93 derajat di Sumatera Barat, dengan umur bulan yang masih negatif.

Dengan kondisi tersebut, penganut kriteria hilal lokal diperkirakan akan mengistikmalkan bulan Syakban menjadi 30 hari, sehingga 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 19 Februari 2026. Namun, menurut Prof. Thomas, pada tanggal yang sama hilal sudah memenuhi kriteria visibilitas di wilayah Alaska, Amerika Serikat. Karena konjungsi terjadi sebelum fajar di Selandia Baru, kriteria hilal global memungkinkan penetapan 1 Ramadan pada 18 Februari 2026.

Detik juga melaporkan, pengamatan rukyatul hilal oleh pemerintah baru akan efektif dilakukan pada 18 Februari 2026 petang. Saat itu, posisi hilal diprediksi sudah sangat memenuhi syarat, dengan ketinggian mencapai 7,62 derajat di Merauke hingga 10,03 derajat di Sabang, elongasi 10,7 hingga 12,21 derajat, serta umur bulan 20 hingga 23 jam, sehingga mudah diamati jika cuaca mendukung.

Meski hisab telah memberikan gambaran yang jelas, pemerintah tetap akan menggelar sidang isbat pada 17 Februari 2026 sebagai penetapan resmi awal Ramadan. Prof. Thomas menegaskan, secara astronomi tidak ada data yang keliru, dan perbedaan semata-mata muncul karena perbedaan kriteria yang digunakan.

Gambar Gravatar
Penulis artikel kesehatan, keuangan, Islam, sepak bola, olahraga, dan prediksi bola yang menghadirkan informasi terbaru, akurat, informatif, dan mudah dipahami pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *