Alaku

Abu Nawas, Penyair Jenaka yang Dikenal Cerdas dan Religius dalam Sejarah Islam

Ilustrasi Abu Nawas. Foto: Getty Images/iStockphoto/Pict Rider

Baghdad – Nama Abu Nawas dikenal luas sebagai sosok penyair legendaris yang cerdas, jenaka, sekaligus memiliki sisi religius yang kuat. Tokoh sastra Arab klasik itu tidak hanya populer lewat kisah humornya, tetapi juga melalui karya-karya puisi yang berpengaruh dalam peradaban Islam.

Abu Nawas memiliki nama lengkap Abu Ali al-Hasan bin Hani’ al-Hakami. Dikutip dari buku Abu Nawas: Sufi dan Penyair Ulung yang Jenaka karya Muhammad Ali Fakih, ia dikenal sebagai salah satu penyair terbesar dalam sejarah sastra Arab klasik.

Julukan Abu Nawas disebut diperoleh saat dirinya remaja di Basrah, Irak Selatan, karena rambutnya yang ikal panjang hingga sebahu. Ia lahir di wilayah Ahwaz, Khuzistan, Persia, sekitar tahun 757 Masehi, meski sejumlah sumber mencatat perbedaan tahun kelahiran.

Abu Nawas tumbuh dalam kondisi keluarga sederhana. Ibunya, Jullaban, merupakan perempuan keturunan Persia yang bekerja sebagai penjahit dan pencuci kain wol. Sementara ayahnya, Hani’ bin Abdul Awwal, diketahui pernah menjadi tentara pada masa Khalifah Umayyah terakhir, Marwan II.

Sejak kecil, Abu Nawas tidak pernah mengenal ayahnya karena telah wafat lebih dahulu. Sang ibu kemudian membawanya ke Basrah dan menitipkannya kepada seorang pria bernama Attar.

Meski bekerja sejak kecil, Abu Nawas tetap memperoleh pendidikan agama. Ia disekolahkan di sekolah Al-Qur’an dan berhasil menjadi penghafal Al-Qur’an pada usia muda berkat kecerdasannya.

Kemampuan bahasa dan daya ingatnya membuat Abu Nawas menarik perhatian penyair Kufah, Abu Usamah Walibah bin al-Hubah al-Asadi. Dari gurunya itu, Abu Nawas mulai mendalami dunia sastra dan puisi dengan gaya bahasa ringan, tajam, dan penuh humor.

Kariernya semakin menanjak setelah kepiawaiannya diketahui Khalifah Harun ar-Rasyid. Melalui musikus istana Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas kemudian diangkat menjadi penyair istana sekaligus penulis syair pujian untuk khalifah.

Selain dikenal lewat karya sastra, nama Abu Nawas juga melegenda dalam berbagai kisah jenaka yang sarat sindiran dan makna kehidupan. Salah satu kisah paling populer ialah saat dirinya diminta seseorang untuk menyampaikan surat kepada ayahnya yang telah meninggal.

“Sebab aku tak tahu jalan ke neraka Jahannam,” jawab Abu Nawas ketika diminta menitipkan surat tersebut.

Jawaban itu membuat orang yang bertanya langsung terdiam dan pergi meninggalkan Abu Nawas.

Di balik kisah humornya, Abu Nawas juga dikenal memiliki sisi spiritual mendalam. Salah satu syair terakhirnya yang terkenal berisi ungkapan penyesalan dan permohonan ampun kepada Allah SWT.

“Ya Allah, tidak layak aku masuk ke dalam surga-Mu, akan tetapi aku juga tiada kuat menerima siksa neraka-Mu,” demikian penggalan syair Abu Nawas yang banyak dikutip hingga kini.

Abu Nawas wafat sekitar tahun 814 atau 815 Masehi dalam usia 59 tahun. Hingga sekarang, namanya tetap dikenang sebagai sosok penyair yang mampu memadukan kecerdasan, humor, dan nilai religius dalam karya maupun kisah hidupnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan