Bengkulu – Keberhasilan Amerika Serikat mendaratkan manusia di Bulan lewat misi Apollo pada akhir 1960-an kerap memunculkan pertanyaan publik: mengapa upaya kembali ke Bulan saat ini justru tampak lebih lambat dan berliku. Program Artemis yang digagas NASA dinilai tidak bergerak secepat era Apollo, meski teknologi telah berkembang pesat.
Perbedaan utama terletak pada skala pendanaan dan konteks zamannya. Pada puncak misi Apollo, NASA menghabiskan sekitar 5 persen dari total anggaran federal Amerika Serikat. Lebih dari separuh dana tersebut dikucurkan khusus untuk membawa manusia ke Bulan. Jika disesuaikan dengan inflasi, total biaya program Apollo melampaui USD 260 miliar. Angka itu bahkan menembus USD 280 miliar bila digabungkan dengan proyek Gemini dan program robotik Bulan sebagai pendahulu.
Situasinya jauh berbeda saat ini. NASA kini mengelola kurang dari 0,5 persen anggaran federal dengan cakupan misi yang jauh lebih luas. Dalam kurun sekitar satu dekade, anggaran yang dihabiskan untuk program Artemis berada di kisaran USD 90 miliar. Dengan sumber daya keuangan yang lebih terbatas, laju pengembangan dan pelaksanaan misi otomatis berjalan lebih lambat.
Faktor keuangan tersebut tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik. Pada era 1960-an, Amerika Serikat berada dalam perlombaan antariksa sengit dengan Uni Soviet. Tekanan geopolitik membuat publik dan pembuat kebijakan sepakat mendukung anggaran besar demi mencetak pencapaian simbolis, yakni pendaratan manusia di Bulan.
Namun, kondisi itu tidak bertahan lama. Setelah Amerika dianggap “menang” dalam perlombaan antariksa, minat publik menurun drastis. Dukungan politik terhadap anggaran besar untuk eksplorasi Bulan pun ikut surut. Sejak saat itu, tidak ada lagi kemauan politik maupun publik untuk mengalokasikan dana sebesar era Apollo.
Keterbatasan dana dan dukungan politik memaksa NASA mengambil sejumlah keputusan strategis pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an yang dampaknya masih terasa hingga kini. Salah satunya adalah keputusan memanfaatkan kembali berbagai komponen pesawat ulang-alik, terutama mesin, untuk digunakan dalam desain kendaraan program Artemis setelah era pesawat ulang-alik berakhir.
Selain itu, perbedaan filosofi risiko juga menjadi faktor penentu. Pada masa Apollo, toleransi terhadap risiko sangat tinggi. Sejumlah misi bahkan berakhir dengan insiden besar, mulai dari kebakaran Apollo 1 yang menewaskan tiga astronaut, kegagalan mesin Apollo 6, hingga cacat desain yang hampir merenggut nyawa awak Apollo 13.
Dikutip detikINET dari Space, pengalaman pahit tersebut membuat NASA, pemerintah Amerika Serikat, dan masyarakat tidak lagi bersedia menerima tingkat risiko serupa, terutama setelah tragedi pesawat ulang-alik Challenger dan Columbia. Standar keselamatan yang jauh lebih ketat membuat setiap tahapan misi memerlukan waktu lebih panjang.
Tujuan Artemis juga berbeda secara fundamental dari Apollo. Jika misi Apollo hanya mengirim astronaut ke permukaan Bulan selama beberapa puluh jam untuk mengambil sampel dan memasang eksperimen sederhana, Artemis dirancang untuk kehadiran yang lebih lama. Para astronaut ditargetkan tinggal hingga sekitar satu minggu di Bulan, sehingga membutuhkan suplai logistik, bahan bakar, serta peralatan ilmiah yang jauh lebih kompleks.
Lebih jauh lagi, fokus utama Artemis adalah riset ilmiah mendalam sekaligus pembangunan infrastruktur awal guna menopang keberadaan manusia secara berkelanjutan di Bulan. Ambisi tersebut menjadikan Artemis bukan sekadar misi pendaratan, melainkan program jangka panjang dengan tingkat kompleksitas yang jauh melampaui era Apollo.





