Transaksi Nonresiden Indonesia Capai Rp 4 Triliun
Bank Indonesia (foto: dok istimewa)

BI Respons Rupiah Tembus Rp 17.078 per Dolar AS, Stabilitas Nilai Tukar Jadi Prioritas

Diposting pada
Editor: Mahmud Yunus

Jakarta – Bank Indonesia (BI) menegaskan stabilitas nilai tukar rupiah menjadi fokus utama setelah dolar Amerika Serikat (AS) menembus level Rp 17.000-an. Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah ketidakpastian global yang tinggi, termasuk dampak eskalasi konflik di Timur Tengah.

Pernyataan itu disampaikan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti saat merespons pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Dalam keterangan tertulis, Selasa (7/4/2026), Destry memastikan bank sentral akan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter yang dimiliki untuk menjaga kestabilan pasar.

“Di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, maka saat ini stabilitas menjadi prioritas utama bagi BI. Untuk itu, BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter yang dimiliki dan juga kebijakan operasi moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” ujar Destry, seperti dikutip dari detikcom.

BI juga menegaskan langkah intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan terukur. Intervensi itu mencakup pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), hingga Non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore.

Langkah tersebut ditempuh untuk meredam gejolak nilai tukar yang terus tertekan dalam beberapa hari terakhir. Bank sentral menilai kombinasi tekanan eksternal dan sentimen global masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan rupiah.

Di sisi lain, BI melihat konflik Timur Tengah yang masih berlangsung tidak sepenuhnya berdampak negatif bagi ekonomi nasional. Kenaikan harga komoditas akibat ketegangan geopolitik justru dinilai dapat memberi ruang penopang bagi Indonesia sebagai negara eksportir.

Menurut Destry, posisi Indonesia sebagai eksportir komoditas bisa memberikan efek positif terhadap perekonomian domestik. Faktor itu dinilai dapat membantu mengimbangi tekanan yang muncul pada nilai tukar rupiah akibat eskalasi konflik global.

“Posisi Indonesia sebagai negara eksportir dapat memberikan efek positif bagi perekonomian kita sehingga dapat mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar akibat eskalasi tersebut,” katanya.

Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip dalam laporan detikcom, nilai tukar dolar AS pada Selasa pagi sekitar pukul 09.14 WIB berada di level Rp 17.078. Posisi tersebut menunjukkan dolar AS naik 43 poin atau 0,25 persen dibanding penutupan perdagangan sehari sebelumnya.

Level Rp 17.000-an ini menjadi sorotan karena menandai tekanan lanjutan terhadap rupiah di tengah volatilitas pasar global. Dengan kondisi itu, sikap BI yang menempatkan stabilitas sebagai prioritas utama diperkirakan akan menjadi penentu arah pasar dalam jangka pendek.

Gambar Gravatar
Penulis artikel kesehatan, keuangan, Islam, sepak bola, olahraga, dan prediksi bola yang menghadirkan informasi terbaru, akurat, informatif, dan mudah dipahami pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *