Alaku

CORE Prediksi PHK Tambahan Tembus 20 Ribu Pekerja, Manufaktur Paling Rentan

Ilustrasi tukang memasang batu bata (Sumber foto: detik.com)

Jakarta – Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memperkirakan gelombang baru pemutusan hubungan kerja (PHK) berpotensi menimpa 15,3 ribu hingga 20,3 ribu pekerja dalam beberapa bulan ke depan. Ancaman itu dipicu tekanan yang semakin besar terhadap dunia usaha akibat kenaikan biaya produksi dan gangguan pasokan global.

Dalam publikasi bertajuk Badai PHK (Belum) Berlalu, CORE menyebut sektor manufaktur menjadi kelompok usaha yang paling berisiko mengalami pengurangan tenaga kerja. Sektor ini diperkirakan menyumbang PHK terbesar dibanding sektor lainnya.

CORE memperkirakan jumlah pekerja yang terdampak di sektor manufaktur mencapai sekitar 8,7 ribu hingga 12,1 ribu orang. Sementara sektor jasa berpotensi kehilangan 3,3 ribu hingga 4,5 ribu tenaga kerja, sedangkan sektor pertanian diperkirakan terdampak sebanyak 3,3 ribu hingga 3,6 ribu pekerja.

Lembaga tersebut menjelaskan proyeksi itu disusun berdasarkan Tabel Input-Output 2020 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS). Perhitungan juga mempertimbangkan sejumlah faktor eksternal, termasuk gangguan distribusi di Selat Hormuz serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

“Dengan asumsi hambatan di Selat Hormuz masih akan terjadi dalam dua hingga tiga bulan ke depan, perusahaan akan menghadapi kelangkaan bahan baku. Nilai tukar terus merosot melebihi Rp17.400,” tulis CORE dalam laporannya.

Menurut CORE, kenaikan harga bahan baku impor menjadi tekanan utama bagi industri manufaktur. Dalam skenario sedang, perusahaan yang menghadapi kenaikan harga input produksi di atas 1,5 persen diperkirakan memangkas output sebesar 0,1 persen.

Sementara itu, pada skenario yang lebih buruk, pemangkasan output diproyeksikan mencapai 0,15 persen. Kondisi tersebut dinilai dapat memperbesar risiko pengurangan tenaga kerja di berbagai sektor yang bergantung pada bahan baku impor.

Selain meningkatkan angka pengangguran, CORE mengingatkan gelombang PHK baru berpotensi mendorong lebih banyak pekerja masuk ke sektor informal. Hingga Februari 2026, jumlah pekerja informal tercatat mencapai 87,74 juta orang atau sekitar 59,42 persen dari total tenaga kerja aktif nasional.

CORE menilai kondisi tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja formal di Indonesia masih rentan terhadap tekanan eksternal. Data yang mereka himpun menunjukkan pertumbuhan tenaga kerja formal sepanjang 2021–2025 hanya sebesar 0,8 persen, jauh tertinggal dibanding sektor informal yang tumbuh 3,2 persen.

Lembaga itu juga mencatat penyerapan angkatan kerja baru pada Februari 2026 hanya mencapai 38 ribu orang, turun 86 persen dibanding rata-rata periode 2022–2025 maupun 2010–2019. “Faktor eksternal memang menjadi pemantik utama, tetapi data ini juga menunjukkan pasar tenaga kerja di Indonesia telah rapuh sejak lebih dari satu dekade terakhir,” tulis CORE.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan