Direktur Celios: Butuh 68 Tahun Gaji di Indonesia untuk Capai Rp10 Juta

Dalam upayanya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mencapai target kesejahteraan masyarakat yang lebih tinggi, Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menggarisbawahi pentingnya peralihan dari kegiatan ekonomi yang sifatnya ekstraktif ke industri pengolahan yang bernilai tambah. Bhima berpendapat bahwa langkah ini akan memungkinkan Indonesia untuk bersaing dengan negara-negara tetangga seperti Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Thailand.
Dalam keterangan yang diberikan di Jakarta, Bhima menjelaskan, “Kita harus melepaskan kegiatan ekonomi yang sifatnya ekstraktif dan beralih ke industri pengolahan yang mampu memberikan nilai tambah. Hal ini adalah kunci untuk bersaing setidaknya dengan negara-negara tetangga kita. Saat ini, banyak negara tetangga telah maju dalam sektor industri pengolahan, dan kita harus menyusul mereka.”
Bhima juga menyoroti perlunya dukungan pemerintah untuk sektor padat karya, terutama di bidang pertanian dan industri pengolahan. Ia menekankan bahwa sektor ini harus diberikan insentif perpajakan dan kemudahan perizinan guna mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan peluang kerja.
“Saat ini, kita melihat pengurangan kesempatan kerja di sektor industri pengolahan. Fenomena ini dapat dikaitkan dengan industrialisasi yang terjadi secara prematur di Indonesia, di mana porsi dari industri manufaktur terhadap produk domestik bruto terus menurun, bahkan mencapai titik terendah dalam 32 tahun terakhir,” ungkapnya.
Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menilai bahwa digitalisasi menjadi sektor potensial yang dapat memberikan dorongan signifikan terhadap penghasilan rata-rata masyarakat Indonesia. Bhima memprediksi bahwa dalam beberapa tahun ke depan, sektor digitalisasi akan mampu menciptakan lapangan pekerjaan dengan gaji yang mencapai di atas Rp30 juta per bulan.





