Kisah Keseharian Rasulullah SAW, Teladan Tawadhu dalam Pekerjaan Rumah
Kaligrafi Nabi Muhammad SAW. Foto: iStock

Kisah Keseharian Rasulullah SAW, Teladan Tawadhu dalam Pekerjaan Rumah

Diposting pada
Editor: Mahmud Yunus

Bengkulu – Kehidupan Rasulullah SAW tidak hanya diisi dengan dakwah dan kepemimpinan umat, tetapi juga aktivitas sederhana di dalam rumah. Sejumlah riwayat hadits dan catatan sejarah menunjukkan bagaimana Nabi Muhammad SAW menjalani kehidupan sehari-hari dengan penuh kerendahan hati, termasuk melakukan pekerjaan domestik yang kerap dianggap sepele. Kisah-kisah ini dirangkum dari laporan media nasional detik.

Dalam kitab Asy-Syamail, Imam at-Tirmidzi memaparkan riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW biasa mencuci bajunya sendiri dan memerah susu kambingnya tanpa meminta bantuan orang lain. Hal tersebut ditegaskan dalam kesaksian Aisyah RA ketika ditanya tentang aktivitas Nabi di rumah.

Aisyah RA ditanya, “Apakah yang dikerjakan Rasulullah SAW di rumahnya?” Aisyah RA menjawab, “Beliau adalah seorang manusia biasa, beliau adalah seorang yang mencuci bajunya sendiri, memerah susu kambingnya sendiri, dan melayani dirinya sendiri.”

Masih menurut sumber detik, Rasulullah SAW juga dikenal menjahit sendiri pakaiannya yang robek, memperbaiki sandal yang putus, serta membantu pekerjaan rumah tangga. Dalam kehidupan rumah tangga, beliau digambarkan sebagai sosok yang sangat sabar, termasuk saat menghadapi omelan istrinya, Aisyah RA, yang pernah memecahkan piring kaca hingga Nabi sendiri yang memunguti serpihannya.

Riwayat lain menyebutkan, Nabi Muhammad SAW kerap melakukan perbuatan yang tampak sederhana namun sarat makna. Dalam buku Bukan Cinta Manusia Biasa karya Ustaz Brilly El-Rasheed, diceritakan bahwa Rasulullah SAW menjenguk anak kecil Yahudi yang sakit dan menyalati jenazah seorang wanita penyapu masjid yang kerap dipandang remeh. Beliau juga dikenal memaafkan penagih utang yang pernah menghinanya.

Aisyah RA juga meriwayatkan kisah ketika Rasulullah SAW membersihkan sendiri dahak Usamah bin Zaid. Dalam riwayat tersebut disebutkan, “Suatu ketika NAbi SAW ingin membersihkan dahak Usamah. Lalu aku (Aisyah) pun mengatakan, ‘Biarkan aku saja yang melakukannya.’ Beliau pun mengatakan, ‘Wahai Aisyah, cintailah Usamah karena sesungguhnya aku mencintainya.” (Jami’ At-Tirmidzi dengan sanad hasan)

Sikap tidak ingin diistimewakan juga tercermin ketika Rasulullah SAW bersama para sahabat hendak memasak kambing. Saat para sahabat menawarkan diri mengerjakan seluruh tugas, beliau justru mengambil peran aktif dengan berkata, “Saya sendiri akan mencari dan mengumpulkan kayu bakarnya.”

Para sahabat pun terkejut dan berkata, “Wahai Rasulullah SAW, tidakkkah engkau lebih baik duduk-duduk saja dan kami yang mencari kayu bakarnya?” Namun Rasulullah SAW menolak perlakuan istimewa tersebut dan menjawab, “Saya tahu kalian bisa menyelesaikan pekerjaan ini, tapi saya tidak suka diistimewakan. Sesungguhnya Allah tidak suka melihat salah seorang hamba-Nya diistimewakan dari kawan-kawannya,” sebagaimana dikisahkan Syaikh ‘Abdul Mun’im Al-Hasyimiyy dalam Akhlaq Ar-Rasyul menurut kriteria Al-Bukhari dan Muslim.

Keteladanan Rasulullah SAW dalam sikap tawadhu juga ditegaskan dalam sabdanya, “Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani yang berlebihan memuji anak Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, oleh sebab itu katakanlah (panggilah) ‘Abdullah (hamba Allah) dan Rasul-Nya.” (HR Ahmad).

Gambar Gravatar
Penulis artikel kesehatan, keuangan, Islam, sepak bola, olahraga, dan prediksi bola yang menghadirkan informasi terbaru, akurat, informatif, dan mudah dipahami pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *