Melamun hingga Bicara Sendiri Bisa Jadi Sinyal Kecerdasan, Ini Penjelasan Psikolog

Jakarta – Sejumlah kebiasaan yang kerap dianggap sebagai kekurangan, seperti melamun atau berbicara sendiri, ternyata dalam kajian psikologi justru bisa mencerminkan tingkat kecerdasan tertentu. Pandangan ini muncul dari berbagai penelitian yang menilai proses berpikir manusia tidak selalu berjalan dalam pola fokus lurus tanpa jeda.
Selama ini, melamun sering dilekatkan pada stigma kurang fokus atau disiplin. Namun menurut psikolog Mark Travers, cara pandang tersebut banyak dipengaruhi budaya produktivitas yang menuntut perhatian penuh tanpa henti. Dalam konteks ini, melamun kerap dianggap gangguan, bukan sebagai proses kognitif yang layak dipahami. Pandangan Travers ini dikutip detik dari Psychology Today.
Penelitian psikologis justru menunjukkan bahwa dalam kondisi tertentu, pikiran yang mengembara dapat mencerminkan fleksibilitas kognitif, kemampuan adaptasi otak, serta mendukung pemecahan masalah kreatif. Studi pada 2025 yang melibatkan lebih dari 1.300 orang dewasa menemukan bahwa melamun secara sengaja berkorelasi dengan kinerja kreatif yang lebih tinggi. Studi tersebut berjudul “Unraveling the creative mind: The role of deliberate and spontaneous mind wandering in creativity”, karya Qiuyang Feng dan kolega, yang dipublikasikan dalam jurnal Thinking Skills and Creativity Volume 56 edisi Juni 2025.
Selain itu, individu yang cenderung melamun secara spontan juga menunjukkan kemampuan peralihan tugas yang lebih baik. Artinya, mereka lebih cepat mengubah pola pikir ketika menghadapi situasi baru, sebuah ciri dari pemikiran yang fleksibel. Kebiasaan ini juga berkaitan erat dengan kapasitas berpikir spontan.
Penelitian lain pada 2024 yang dimuat dalam PNAS Nexus menganalisis pola pemikiran spontan lebih dari 3.300 partisipan menggunakan pemrosesan bahasa alami. Hasilnya menunjukkan bahwa pikiran yang muncul tanpa pemicu tertentu cenderung terorganisasi di sekitar informasi yang relevan dengan tujuan dan berperan dalam konsolidasi memori. Dengan kata lain, pikiran yang tampak tidak bertujuan sering kali justru mendukung fungsi kognitif adaptif.
Namun Travers menekankan bahwa manfaat melamun tidak muncul begitu saja. “Namun penting untuk dicatat, pikiran yang mengembara bukanlah solusi ajaib. Manfaatnya hanya akan muncul jika diimbangi dengan pengendalian perhatian. Jika Anda sering mendapati pikiran Anda mengembara, dan jika Anda juga memiliki fokus dan kesadaran diri yang baik, maka Anda mungkin sedang memanfaatkan mode mental yang mendukung kreativitas, pemikiran fleksibel, dan pemecahan masalah,” jelas Travers, seperti dikutip detik dari Psychology Today (7/2/2026).
Selain melamun, kebiasaan berbicara pada diri sendiri juga kerap disalahpahami. Dari sudut pandang orang lain, perilaku ini bisa terlihat aneh atau bahkan mengkhawatirkan. Padahal, riset psikologi menunjukkan dialog internal berperan penting dalam pengaturan diri, perencanaan, serta metakognisi atau kemampuan merefleksikan pikiran sendiri.
Sebuah studi pada 2023 terhadap mahasiswa yang diterbitkan dalam jurnal Behavioral Sciences menemukan adanya korelasi kuat antara kebiasaan berbicara pada diri sendiri dengan pengaturan diri dan kejelasan konsep diri. Studi berjudul “Relationships between Self-Talk, Inner Speech, Mind Wandering, Mindfulness, Self-Concept Clarity, and Self-Regulation in University Students” karya Famira Racy dan Alain Morin tersebut menunjukkan bahwa individu yang lebih sering melakukan percakapan batin cenderung memiliki identitas diri yang lebih jelas dan kontrol diri yang lebih baik.
Meski demikian, Travers menegaskan kebiasaan ini tidak serta-merta menjadi indikator kecerdasan. “Tentu saja, ini tidak berarti bahwa berbicara sendiri secara langsung menandakan kecerdasan yang lebih tinggi. Sebaliknya, kebiasaan ini menunjukkan ucapan batin dapat berfungsi sebagai kerangka kognitif, atau sebagai cara untuk mengatur ide-ide kompleks, mengurutkan tindakan, dan memantau tujuan,” ujarnya.
Dengan mengeksternalisasi pikiran, baik secara internal maupun melalui gumaman pelan, otak dapat mengurangi kebisingan kognitif dan memberi struktur pada persoalan abstrak atau emosional. “Jadi, jika Anda mendapati diri Anda bergumam saat berpikir, itu bisa jadi cara otak Anda untuk menyusun ide-ide kompleks, mengubah pemikiran yang kacau menjadi rencana yang teratur atau refleksi diri,” kata Travers.
Seperti halnya melamun, kebiasaan berbicara sendiri juga perlu berada dalam batas yang sehat. Jika dilakukan berlebihan atau bernada negatif, perilaku ini justru dapat mengganggu fokus dan kesehatan mental. Namun bila dimanfaatkan secara konstruktif, dialog internal dapat membantu mengubah pikiran yang belum terstruktur menjadi rencana yang lebih jelas dan dapat dijalankan.






