Alaku

Sarafal Anam Tetap Lestari di Bengkulu, Tradisi Religius yang Rekatkan Warga

Sarafal Anam Tetap Lestari di Bengkulu, Tradisi Religius yang Rekatkan Warga (dok:pemkotbengkulu)

Bengkulu – Tradisi Sarafal Anam masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Bengkulu, terutama dalam berbagai hajatan adat dan perayaan keagamaan. Warisan budaya bernuansa Islami ini tidak hanya mempertahankan seni lantunan syair dan tabuhan rebana, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat kebersamaan serta identitas masyarakat Melayu, Lembak, dan Serawai.

Di tengah masyarakat, Sarafal Anam juga dikenal dengan sebutan bedikir atau zikir. Tradisi tersebut berupa lantunan puji-pujian kepada Allah SWT dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW yang dibawakan secara berkelompok dengan iringan rebana atau gendang berirama khas Melayu.

Keberadaan Sarafal Anam di Bengkulu memiliki jejak sejarah yang panjang. Tradisi ini diperkirakan berkembang bersamaan dengan masuknya Islam ke Bengkulu pada kisaran abad ke-15 hingga ke-17 melalui jalur perdagangan, pengaruh kerajaan Nusantara, serta kebudayaan Melayu.

Dalam perkembangannya, lantunan syair keagamaan dipadukan dengan seni pertunjukan lokal. Perpaduan tersebut menjadikan Sarafal Anam sebagai salah satu media penyebaran ajaran Islam yang dapat diterima masyarakat melalui pendekatan budaya.

Hingga kini, Sarafal Anam masih hadir dalam berbagai tahapan kehidupan masyarakat. Dalam pesta pernikahan adat atau bimbang, misalnya, kesenian ini menjadi salah satu bagian yang kerap ditampilkan. Tradisi serupa juga dapat ditemui dalam acara aqiqah dan prosesi membuang rambut cemar atau pencukuran rambut bayi.

Tidak hanya dalam hajatan keluarga, Sarafal Anam juga mengisi berbagai peringatan hari besar Islam, termasuk Maulid Nabi Muhammad SAW. Kehadirannya membuat tradisi keagamaan sekaligus menjadi ruang berkumpul dan berinteraksi bagi masyarakat.

Pertunjukan Sarafal Anam sendiri dimainkan secara berkelompok, umumnya oleh kaum pria. Mereka melantunkan bait-bait syair secara bersahut-sahutan dengan iringan tabuhan rebana yang menuntut kekompakan dan ketepatan ritme.

Alunan biasanya dimulai dalam tempo yang lebih lambat dan khidmat. Seiring pertunjukan berlangsung, irama meningkat hingga mencapai bagian yang lebih energik, termasuk saat munculnya rentak kudo, yakni ketukan rebana yang menghentak dan menjadi salah satu ciri khas dalam pertunjukan.

Kekuatan Sarafal Anam tidak hanya terletak pada unsur seni dan kemeriahannya. Tradisi tersebut juga merepresentasikan nilai kebersamaan, kekompakan, dan gotong royong yang tumbuh di tengah masyarakat.

Perpaduan syair bernuansa Islam dengan seni vokal dan musik Melayu membuat Sarafal Anam tetap memiliki posisi penting sebagai identitas budaya Bengkulu. Tradisi yang diwariskan lintas generasi itu sekaligus menjadi sarana menjaga hubungan sosial dan nilai spiritual masyarakat di tengah perubahan zaman.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan