Smart Glasses Disorot, Pakar Ingatkan Etika Rekam Orang

Jakarta – Penggunaan smart glasses seperti Ray-Ban Meta semakin menjadi sorotan setelah memicu perdebatan mengenai privasi dan etika perekaman di ruang publik. Di Indonesia, penggunaan perangkat tersebut menuai kritik usai seorang kreator konten merekam seorang usher di GIIAS 2026 tanpa persetujuan, sementara di Skotlandia seorang TikToker kini diselidiki kepolisian karena diduga merekam orang asing secara diam-diam menggunakan kacamata pintar serupa.
Perkembangan tersebut memunculkan kembali peringatan bahwa kemajuan teknologi wearable harus diiringi tanggung jawab pengguna, terutama ketika rekaman melibatkan orang lain sebagai objek utama konten.
Tech reviewer Wasa Wirman menegaskan smart glasses sejatinya dirancang untuk mendokumentasikan aktivitas pengguna dari sudut pandang orang pertama (POV), bukan untuk merekam orang secara diam-diam.
“Kalau ngomongin Ray-Ban Meta, sebenarnya kameranya nggak benar-benar tersembunyi. Dari depan masih kelihatan dua bulatan kamera di dekat engsel, dan saat merekam juga ada lampu LED sebagai indikator,” ujarnya.
Menurut Wasa, keberadaan lampu indikator merupakan fitur yang sengaja disematkan agar orang di sekitar mengetahui ketika kamera sedang aktif sehingga membantu menjaga privasi.
Ia menilai perangkat tersebut lebih tepat dimanfaatkan untuk membuat konten perjalanan, bersepeda, unboxing, atau ulasan produk karena mampu menghadirkan sudut pandang yang lebih natural dibandingkan ponsel maupun kamera aksi.
Namun, Wasa mengingatkan ada batas etika yang tidak boleh diabaikan. Jika seseorang hanya terekam sekilas di latar belakang, kondisi itu masih dapat dianggap wajar. Sebaliknya, apabila wajah seseorang menjadi fokus utama isi konten, kreator sebaiknya meminta persetujuan terlebih dahulu.
“Kalau orangnya jadi inti cerita, menurut saya lebih baik minta izin dulu. Kasih tahu mau bikin konten dan merekam pakai kacamata ini. Kalau mereka berkenan ya lanjut, kalau tidak ya jangan dipaksa,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar kreator menghormati petugas pameran, SPG, SPB, maupun usher yang sedang menjalankan tugas. “Mereka berdiri seharian untuk bekerja. Etika dan adab harus dipikirkan juga, jangan egois,” ujarnya.
Di sisi lain, penggunaan smart glasses juga menjadi perhatian aparat di Skotlandia. TikToker asal Inggris Scott Margerison, yang dikenal dengan nama E Dobbin, tengah diselidiki Kepolisian Skotlandia setelah mengunggah video yang memperlihatkan dirinya merekam orang asing menggunakan kacamata Meta, termasuk melontarkan komentar bernada seksual kepada dua remaja dan mendatangi mereka tanpa diketahui sedang direkam.
Dalam insiden lain, Margerison juga merekam seorang pemilik toko berdarah India beragama Sikh di Pulau Skye. Perempuan tersebut mengaku merasa terintimidasi dan terpukul setelah mengetahui rekaman yang diambil tanpa sepengetahuannya dipublikasikan di TikTok.
Menurut otoritas setempat, legalitas perekaman menggunakan smart glasses bergantung pada situasinya. Perekaman dapat melanggar hukum apabila mengandung unsur pelecehan, penguntitan, menimbulkan rasa takut, atau dilakukan dalam situasi yang memiliki ekspektasi privasi, seperti di ruang ganti. Kepolisian Skotlandia menyatakan tengah mengkaji video yang beredar.
Sementara itu, Meta menyatakan telah menonaktifkan akun-akun milik Margerison. Perusahaan menegaskan fitur privasi telah menjadi bagian dari desain smart glasses sejak awal, termasuk lampu indikator perekaman. Meta juga menyebut pembaruan perangkat membuat upaya menonaktifkan lampu indikator dapat menyebabkan kacamata tidak lagi berfungsi.
Wasa menilai semakin populernya smart glasses harus dibarengi peningkatan kesadaran etika di kalangan kreator konten. Ia juga mendorong penyelenggara acara mulai menyusun panduan penggunaan kamera wearable agar pemanfaatan teknologi tetap menghormati hak dan kenyamanan setiap orang.
“Teknologi makin ke sini makin smart. Karena itu etika sebagai kreator juga harus ikut smart. Jangan sampai demi konten kita mengabaikan rasa nyaman orang lain,” tutupnya.






