Alaku

Jakarta – Kemabruran haji tidak hanya diukur dari sempurnanya pelaksanaan rukun dan wajib haji, tetapi juga tercermin dari perubahan sikap serta kualitas ibadah seseorang setelah kembali dari Tanah Suci. Dalam ajaran Islam, haji mabrur merupakan ibadah yang diterima Allah SWT dan dijanjikan balasan surga.

Kementerian Haji dan Umrah RI dalam buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah menjelaskan bahwa haji mabrur adalah haji yang maqbul atau diterima Allah SWT. Selain memenuhi seluruh ketentuan syariat, kemabruran juga sangat dipengaruhi oleh keikhlasan dan kesungguhan jemaah dalam menjalankan ibadah.

Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Abu Hurairah RA menyebutkan bahwa orang yang berhaji tanpa melakukan perbuatan fasik dan perkataan kotor akan kembali dalam keadaan suci seperti saat dilahirkan oleh ibunya. Para ulama menjelaskan bahwa pengampunan dosa tersebut menjadi tanda diterimanya ibadah haji yang dijalankan dengan benar.

Dalam riwayat lain, Nabi Muhammad SAW menjelaskan ciri haji mabrur melalui perilaku sosial yang baik. Saat ditanya mengenai makna haji mabrur, Rasulullah menjawab, “Memberikan makanan dan santun dalam berkata.” Keterangan ini menunjukkan bahwa kemabruran tidak hanya terlihat saat berhaji, tetapi juga dalam hubungan dengan sesama.

Salah satu tanda utama haji mabrur adalah meningkatnya kualitas diri setelah pulang dari Makkah. Seseorang yang hajinya diterima akan menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik dan berupaya meninggalkan kebiasaan maksiat yang pernah dilakukan sebelumnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan penjelasan yang dinukil Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dari Imam Qurtubi. Menurutnya, tanda diterimanya haji adalah ketika seorang hamba kembali dengan kondisi yang lebih baik dibanding sebelumnya dan tidak mengulangi perbuatan dosa yang pernah dilakukan.

Selain itu, kemabruran juga tercermin dari meningkatnya semangat menjalankan amal kebajikan. Bentuknya dapat berupa memperkuat keimanan, memperbanyak sedekah, menjaga salat dan zakat, menepati janji, serta bersabar dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 177.

Di sisi lain, pengalaman spiritual selama berhaji diharapkan membentuk sikap zuhud dan kebersihan hati. Nilai-nilai yang diperoleh selama menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci perlu terus dijaga melalui kehidupan yang lebih sederhana serta orientasi yang lebih kuat kepada kehidupan akhirat.

Kedekatan dengan Allah SWT yang dirasakan saat berada di sekitar Ka’bah juga diharapkan tetap terpelihara setelah kembali ke Tanah Air. Kesadaran spiritual tersebut menjadi salah satu indikator bahwa ibadah haji memberi dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, jemaah juga dianjurkan untuk tetap optimistis terhadap kemabruran hajinya. Meski tidak ada seorang pun yang dapat memastikan diterima atau tidaknya amal ibadah, seorang muslim dianjurkan berprasangka baik kepada Allah SWT serta terus memanjatkan doa agar haji yang telah dilaksanakan benar-benar menjadi haji yang mabrur.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan