Repoeblik.com – Mata air zamzam yang berada sekitar 20 meter dari Ka’bah menjadi salah satu mukjizat paling masyhur dalam sejarah Islam. Sumber air suci yang muncul di tengah tanah gersang itu diyakini mengubah Makkah dari kawasan tandus menjadi pusat permukiman yang kemudian berkembang pesat hingga hari ini.
Kisah zamzam berawal dari ujian berat yang dialami Nabi Ibrahim AS. Atas perintah Allah SWT, ia meninggalkan Siti Hajar bersama putranya yang masih bayi, Nabi Ismail AS, di sebuah lembah tandus yang saat itu belum berpenghuni.
Saat bekal air habis, Hajar berusaha mencari pertolongan demi menyelamatkan Ismail yang kehausan. Dalam riwayat yang dikisahkan dalam Qashashul Anbiya karya Ibnu Katsir, Hajar bolak-balik dari Bukit Shafa ke Bukit Marwa sambil mencari siapa pun yang dapat membantu, namun tidak menemukan seorang pun.
Di tengah keputusasaan itu, Hajar mendengar suara saat berada di atas Bukit Marwa. Ia kemudian memohon agar suara tersebut menolong dirinya dan bayinya.
Tak lama kemudian, malaikat muncul di lokasi sumur zamzam sekarang. Dalam riwayat tersebut, malaikat menghentakkan tumit atau sayapnya hingga air memancar deras dari tanah, lalu Hajar segera menampung air itu ke dalam geriba sambil berusaha membendung alirannya.
Dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Semoga Allah merahmati Ibu Ismail, andai ia membiarkan zamzam—andai dia tidak menciduk zamzam—niscaya akan mengalir ke seluruh permukaan bumi.” Riwayat ini menggambarkan betapa derasnya air yang keluar saat pertama kali muncul.
Sumber lain juga menyebut air zamzam muncul dari hentakan tumit Nabi Ismail AS yang saat itu masih bayi. Peristiwa itu kemudian diyakini sebagai salah satu mukjizat besar Nabi Ismail AS yang terus dirasakan manfaatnya oleh umat Islam sepanjang zaman.
Peristiwa kemunculan zamzam diperkirakan terjadi ribuan tahun lalu, sekitar 4.000 hingga 5.000 tahun silam. Sejumlah sumber sejarah menyebut Nabi Ismail AS lahir pada kisaran 1911 SM, sementara pendapat lain memperkirakan sekitar 2080 SM berdasarkan penelusuran masa hidup Nabi Ibrahim AS.
Keberadaan zamzam tak hanya penting dalam aspek spiritual, tetapi juga menjadi titik awal tumbuhnya peradaban di Makkah. Ketersediaan air di tengah padang tandus menjadikan wilayah sekitar Ka’bah layak dihuni dan berkembang menjadi pusat kehidupan serta ibadah.
Kerajaan Arab Saudi kemudian mengambil peran besar dalam menjaga kelestarian sumber air zamzam. Berdasarkan catatan SPA, upaya pelestarian modern dimulai pada masa Raja Abdulaziz bin Abdul Rahman Al-Saud pada 1345 H melalui pembangunan sabil untuk memasok air zamzam, yang kemudian dilanjutkan dengan pembangunan sabil kedua serta perbaikan sumur.
Raja-raja Saudi setelahnya terus melanjutkan pengembangan fasilitas. Pada masa Raja Faisal bin Abdulaziz, dibangun ruang bawah tanah kedua untuk sumur pada 1393 H, sedangkan Raja Khalid bin Abdulaziz memerintahkan pembersihan menyeluruh oleh tim penyelam.
Tonggak penting berikutnya terjadi pada era Raja Fahd bin Abdulaziz lewat proyek perluasan kedua Masjidil Haram yang dilengkapi sistem air minum dan drainase khusus, termasuk pemasangan dua pompa besar dan pompa tambahan untuk mendukung distribusi air zamzam.
Di era Raja Abdullah bin Abdulaziz, proyek modernisasi semakin diperkuat melalui pembangunan stasiun pemurnian, fasilitas pengemasan, hingga sistem transportasi air zamzam yang lebih canggih. Dua proyek tambahan juga diluncurkan, yakni pembersihan otomatis dan desain ulang wadah air zamzam agar perlindungan serta akses bagi jemaah lebih optimal.
Sementara itu, Raja Salman bin Abdulaziz Al-Saud melanjutkan rehabilitasi sumur pada 1439 H dengan pembangunan lima jalur layanan khusus. Air zamzam kini didistribusikan dari Masjidil Haram hingga Masjid Nabawi, dengan sistem pemompaan berkapasitas 360 meter kubik per jam melalui dua pompa besar sebelum diproses, disimpan, didisinfeksi, dan disalurkan.
Sejarah mencatat sumur zamzam tidak pernah kering, meski sempat tertimbun dan tidak mengalir sebelum akhirnya ditemukan kembali oleh Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad SAW. Setelah ditemukan kembali, sumur itu terus mengalir dan disebut mampu memompa sekitar 11 hingga 19 liter air per detik.





