29 Perusahaan Pinjol Belum Penuhi Ketentuan Ekuitas Minimal
OJK - Foto Dok Kata Data

Utang Pinjol Tembus Rp 100,69 Triliun, OJK Soroti Kredit Macet Ikut Naik

Diposting pada
Editor: Oktaliansyah

Jakarta – Total utang masyarakat Indonesia di layanan peer to peer (P2P) lending atau pinjaman online (pinjol) menembus Rp 100,69 triliun per Februari 2026. Angka ini melonjak 25,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sekaligus menunjukkan kenaikan bulanan di tengah memburuknya rasio kredit bermasalah.

Data itu disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Agusman, dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Maret 2026 yang digelar secara daring, Senin (6/4/2026).

Menurut Agusman, secara bulanan outstanding pembiayaan pinjol juga mengalami kenaikan cukup signifikan. Per Januari 2026, total utang masyarakat di layanan pinjol masih berada di level Rp 98,54 triliun, sehingga dalam sebulan bertambah sekitar Rp 2,15 triliun.

“Pada industri pinjaman daring, outstanding pembiayaan pada Februari 2026 tumbuh 25,75% year-on-year dengan nilai nominal sebesar Rp 100,69 triliun,” kata Agusman.

Di tengah pertumbuhan pembiayaan tersebut, OJK juga mencatat adanya kenaikan risiko kredit macet. Tingkat risiko kredit secara agregat atau TWP90 fintech P2P lending per Februari 2026 berada di level 4,54 persen.

Angka itu meningkat dibandingkan posisi Januari 2026 yang tercatat 4,38 persen. Kenaikan rasio TWP90 menjadi sorotan karena mencerminkan memburuknya kualitas pembiayaan di tengah laju pertumbuhan utang pinjol yang masih tinggi.

“Tingkat risiko kredit secara agregat atau TWP90 berada di posisi 4,54%,” ujar Agusman.

Dalam laporan yang sama, OJK juga memaparkan kinerja sektor pergadaian yang tumbuh jauh lebih tinggi. Per Februari 2026, pembiayaan industri pergadaian tercatat naik 61,78 persen secara tahunan menjadi Rp 152,4 triliun.

Kenaikan pembiayaan itu ikut mendorong lonjakan aset industri pergadaian. Nilai aset tercatat meningkat secara bulanan dari Rp 171,07 triliun menjadi Rp 182,71 triliun pada Februari 2026.

Agusman menjelaskan, porsi terbesar pembiayaan pergadaian masih berasal dari produk gadai. Nilainya mencapai Rp 126 triliun atau setara 83,01 persen dari total pembiayaan yang disalurkan industri tersebut.

“Pembiayaan terbesar di industri pergadaian ini disalurkan dalam bentuk produk gadai yaitu sebesar Rp 126 triliun atau 83,01% dari total pembiayaan yang disalurkan oleh industri pergadaian,” katanya.

Sementara itu, pembiayaan modal ventura juga tercatat tumbuh, meski tipis. OJK melaporkan pembiayaan modal ventura pada Februari 2026 naik 0,78 persen secara tahunan menjadi Rp 16,46 triliun, dengan nilai aset industri meningkat secara bulanan menjadi Rp 27,63 triliun.

Dalam laporan yang dikutip dari Detik, lonjakan utang pinjol hingga menembus Rp 100 triliun menjadi salah satu catatan penting sektor jasa keuangan awal tahun ini. Di saat yang sama, kenaikan rasio kredit macet menunjukkan tantangan kualitas pembiayaan masih perlu diwaspadai.

Gambar Gravatar
Penulis artikel kesehatan, keuangan, Islam, sepak bola, olahraga, dan prediksi bola yang menghadirkan informasi terbaru, akurat, informatif, dan mudah dipahami pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *