Arti Ngabuburit dan Sejarahnya, Tradisi Ramadan yang Mengakar di Indonesia
Arti Ngabuburit dan Sejarahnya, Tradisi Ramadan yang Mengakar di Indonesia (foto:canva)

Arti Ngabuburit dan Sejarahnya, Tradisi Ramadan yang Mengakar di Indonesia

Diposting pada
Editor: Mahmud Yunus

Bengkulu – Arti ngabuburit menjadi bagian tak terpisahkan dari suasana Ramadan di Indonesia. Istilah yang merujuk pada aktivitas menunggu waktu berbuka puasa ini telah lama hidup dalam keseharian masyarakat dan kini digunakan secara luas lintas daerah. Seperti ditulis detik, tradisi tersebut berkembang seiring kebiasaan warga mengisi waktu sore dengan berbagai kegiatan menjelang azan Magrib.

Arti ngabuburit berakar dari bahasa Sunda. Berdasarkan Kamus Bahasa Sunda terbitan Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda (LBSS), istilah ini berasal dari frasa ngalantung ngadagoan burit yang bermakna bersantai menunggu sore, sebagaimana dilansir dari laman Universitas Pasundan dan dikutip Kamis (19/2/2026). Dalam konteks Ramadan, ngabuburit kemudian identik dengan kegiatan mengisi waktu menjelang berbuka puasa.

Secara linguistik, kata ngabuburit tersusun dari imbuhan “nga” yang membentuk kata kerja dan kata “burit” yang berarti sore atau menjelang Magrib. Ketua Lembaga Budaya Sunda Unpas, Hawe Setiawan, menjelaskan keunikan tersebut karena keterangan waktu dapat berubah fungsi menjadi kata kerja setelah mendapat imbuhan.
“Istilah ngabuburit merujuk pada kata kerja, yaitu melakukan kegiatan untuk mengisi waktu seraya menyongsong tibanya sore hari,” kata Hawe.

Menelusuri lebih jauh arti ngabuburit, Hawe menyebut istilah ini bukan tradisi baru. Kebiasaan tersebut telah dikenal sejak lama bersamaan dengan masuknya nilai-nilai Islam ke wilayah budaya Sunda dan berkembang melalui tradisi lisan.
“Seingat saya sudah lama (muncul istilah ngabuburit). Saya kira sejak nilai-nilai Islam masuk dalam wilayah budaya Sunda,” ujarnya.

Seiring waktu, kegiatan ngabuburit pun mengalami perubahan. Jika dahulu anak-anak mengisi waktu sore dengan permainan tradisional seperti bebeledugan atau meriam bambu, kini aktivitas tersebut semakin beragam.
“Kegiatan ngabuburit kini kian berkembang dan beragam dibanding awal kemunculannnya. Zaman dulu, anak-anak mengisi kegiatan ngabuburit dengan bermain permainan tradisional Jawa Barat seperti bebeledugan atau meriam bambu,” kata Hawe. Ia menambahkan, sejak era 1980-an, kegiatan seni dan musik bernuansa Islami mulai mewarnai ngabuburit, khususnya di kawasan perkotaan.

Popularitas istilah ini kemudian meluas secara nasional. Menurut Hawe, peran media massa dan media sosial turut mendorong penggunaan kata ngabuburit di berbagai daerah karena mudah diucapkan oleh penutur nonbahasa Sunda.
“Saya kira mungkin karena faktor media, sehingga ngabuburit dikenal luas. Istilah ini juga mudah diucapkan oleh penutur non bahasa Sunda,” tuturnya.

Pengakuan resmi terhadap arti ngabuburit juga tercermin dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia mencatat kata ngabuburit sebagai serapan dari bahasa Sunda yang berarti menunggu azan Magrib menjelang berbuka puasa pada bulan Ramadan, dan telah masuk KBBI sejak Oktober 2018 berdasarkan keterangan Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat.

Meski istilah ngabuburit populer secara nasional, sejumlah daerah memiliki sebutan sendiri untuk aktivitas serupa. Mengutip Antara, masyarakat Minangkabau mengenalnya sebagai malengah puaso, di Kalimantan Selatan disebut basambang, sementara di Madura dikenal dengan istilah nyarè malem atau nyarè bhuka’an. Keragaman istilah tersebut menegaskan arti ngabuburit sebagai tradisi menunggu berbuka puasa yang tumbuh dari kekayaan budaya lokal Indonesia.

Gambar Gravatar
Penulis artikel kesehatan, keuangan, Islam, sepak bola, olahraga, dan prediksi bola yang menghadirkan informasi terbaru, akurat, informatif, dan mudah dipahami pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *