Alaku

Bagaimana Sekolah Favorit Itu, Ini Kata Tokoh Pendidikan Bengkulu

Tokoh pendidikan Bengkulu, Prof. Dr. H. Rohimin, M.Ag., (Foto: dok pribadi Prof. Dr. H. Rohimin, M.Ag)

Bengkulu – Kasus diberhentikannya 172 siswa SMA Negeri 5 Kota Bengkulu setelah sebulan mengikuti proses belajar menjadi preseden buruk di dunia pendidikan. Pihak sekolah beralasan pemberhentian dilakukan karena data 72 siswa tersebut tidak dapat diakses melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Akibatnya, para siswa yang sudah belajar terpaksa menjadi korban.

SMA Negeri 5 Kota Bengkulu sendiri selama ini dikenal sebagian siswa dan wali murid sebagai sekolah favorit. Untuk bisa masuk ke sekolah ini diperlukan perjuangan ekstra, bahkan banyak orang tua rela melakukan berbagai upaya agar anaknya diterima.

Tokoh pendidikan Bengkulu, Prof. Dr. H. Rohimin, M.Ag., menegaskan bahwa seharusnya tidak perlu ada istilah sekolah favorit. Menurutnya, sekolah negeri semestinya memiliki standar yang sama, baik dalam sistem belajar mengajar, fasilitas, maupun dukungan lainnya.

“Adanya sistem evaluasi yang bersifat nasional sebenarnya ingin menegaskan bahwa sekolah harus memiliki kualitas yang setara, sehingga tidak menimbulkan kesenjangan,” ujar Rohimin, Kamis 21 Agustus 2025.

Ia menjelaskan, istilah sekolah favorit muncul karena kenyataannya kualitas lulusan hingga manajemen sekolah berbeda-beda. “Sistem manajemen yang baik bukan hanya meningkatkan mutu pembelajaran, tetapi juga memberikan insentif yang lebih baik,” tambahnya.

Rohimin juga mengakui bahwa sekolah favorit biasanya diuntungkan oleh latar belakang keluarga siswa yang memiliki kemampuan lebih, sehingga kualitas daya dukung kegiatan belajar ikut terangkat. “Murid sekolah favorit umumnya adalah lulusan terbaik dari jenjang sebelumnya. Artinya, tugas sekolah tidak terlalu berat karena hanya menjadi fasilitator bagi anak-anak yang sejak awal sudah berkualitas,” jelasnya.

Meski begitu, ia berpesan agar masyarakat tidak terjebak pada anggapan harus bersekolah di sekolah favorit. Yang terpenting adalah bagaimana sekolah kembali pada tujuan awalnya, yakni mentransformasikan kualitas diri agar lulusannya memiliki kecerdasan, akhlak, dan karakter.

“Oleh karena itu dibutuhkan kerja keras semua pihak agar semua sekolah memiliki standar kualitas yang sama. Baik dari segi isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga pendidik dan kependidikan, sarana-prasarana, pengelolaan, pembiayaan, hingga penilaian pendidikan. Jika kedelapan elemen ini dipenuhi, maka tidak perlu lagi ada istilah sekolah favorit,” pungkasnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan