Cara Menghadapi Wartawan, Panduan Etis untuk Narasumber

Bengkulu – Dalam dunia informasi yang serba cepat, wartawan berperan penting menyampaikan berita kepada masyarakat. Namun, sering kali pejabat pemerintah, guru, bahkan masyarakat awam merasa gugup atau salah langkah saat berhadapan dengan wartawan. Akibatnya, informasi yang disampaikan bisa menimbulkan salah persepsi atau memicu kontroversi.
Dilansir dari berbagai sumber, ada beberapa etika dan langkah yang perlu diperhatikan agar komunikasi dengan wartawan berjalan baik, profesional, dan sesuai kaidah hukum.
1. Pahami Peran Wartawan
Wartawan bertugas mencari dan menyampaikan informasi kepada publik sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Mereka bekerja berdasarkan Kode Etik Jurnalistik, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir selama proses wawancara berlangsung transparan dan etis.
Seperti dikutip dari AJI Indonesia, memahami peran wartawan membantu narasumber menyadari bahwa pertanyaan mereka bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyajikan informasi faktual bagi publik.
2. Siapkan Data dan Fakta
Sebelum memberikan keterangan, pastikan data yang disampaikan lengkap dan akurat. Dewan Pers menekankan pentingnya sumber informasi yang jelas agar berita yang dipublikasikan tidak menyesatkan.
Contoh: Jika seorang guru diminta komentar soal kasus di sekolahnya, cukup berikan data sesuai kapasitas, tanpa spekulasi atau opini yang bisa menimbulkan polemik.
3. Gunakan Bahasa yang Jelas dan Tenang
Dilansir dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), bahasa yang singkat, jelas, dan tidak berbelit akan memudahkan wartawan menulis berita secara akurat. Hindari emosi berlebihan atau kalimat yang bisa ditafsirkan berbeda.
4. Pahami Hak Jawab dan Hak Koreksi
Menurut UU Pers Pasal 5, narasumber memiliki hak jawab dan hak koreksi jika ada pemberitaan yang dianggap tidak akurat atau merugikan. Hak ini bisa digunakan melalui mekanisme resmi kepada media bersangkutan atau melalui Dewan Pers.
5. Jangan Menyampaikan Informasi Off the Record tanpa Kesepakatan
Melansir dari Poynter Institute, informasi off the record hanya berlaku jika disepakati kedua belah pihak. Jika tidak, wartawan berhak mempublikasikannya. Karena itu, penting untuk menjelaskan sejak awal jika ada informasi yang bersifat latar belakang dan tidak boleh dipublikasikan.
6. Sediakan Waktu Khusus untuk Wawancara
Pejabat publik atau pihak sekolah sebaiknya menjadwalkan waktu khusus untuk wawancara, bukan di sela-sela kesibukan yang bisa membuat komunikasi tergesa-gesa dan informasi jadi kurang jelas.
7. Jangan Takut untuk Menolak
Jika merasa belum siap memberikan keterangan, narasumber berhak menolak dengan cara yang baik. Sampaikan bahwa informasi akan diberikan setelah data lengkap tersedia. Sikap terbuka tetapi hati-hati ini membantu menjaga hubungan baik dengan wartawan.
Menghadapi wartawan tidak perlu menjadi hal yang menegangkan. Dengan memahami peran pers, menyiapkan data akurat, menggunakan bahasa yang jelas, serta mengetahui hak dan kewajiban, komunikasi antara wartawan dan narasumber akan berjalan profesional dan konstruktif.
Pada akhirnya, kerjasama yang baik antara wartawan dan masyarakat akan menghasilkan pemberitaan yang akurat, berimbang, dan bermanfaat bagi publik.






