Hutan Lemo Nakai Pelindung Pertanian Kopi

Tak hanya menopang ekonomi warga setempat, pertanian kopi di Hutan Lemo Nakai juga telah memberikan kontribusi positif terhadap pelestarian alam. Petani di sini menggunakan metode pertanian berkelanjutan dan tidak menggunakan bahan kimia berbahaya. Mereka menjaga keanekaragaman hayati dan menjadikan kawasan ini sebagai cagar flora dan fauna.
Selain pertanian kopi, Hutan Lemo Nakai juga mendukung berbagai mata pencaharian lain seperti perburuan non-harmful, pariwisata ekowisata, dan kerajinan tangan dari bahan alam. Semua ini menjadikan hutan desa ini sebagai model yang inspiratif untuk kawasan-kawasan lain dalam upaya pelestarian alam dan keberlanjutan ekonomi.
Di tengah lebatnya hutan di Hutan Lemo Nakai, terdapat petani kopi yang memiliki pandangan unik tentang pertanian kopi mereka. “Jadi kasih sayang ini membuat saya sayang untuk memangkas jika sudah tinggi. Maka dari itu, kami biarkan untuk tumbuh alamiah,” kata seorang pria berusia sekitar 50-an tahun dengan tulus.
Pria yang berbicara adalah Johar, salah satu petani kopi di Desa Batu Raja R, yang membiarkan tanaman kopinya tumbuh tanpa banyak campur tangan. Ia merasa bahwa tanaman kopi ini seperti bagian dari keluarganya, dan ia tak tega untuk memangkas batang dan daun yang subur. Pandangan serupa juga dipegang oleh Aryo, seorang petani kopi lain di daerah tersebut yang serupa usianya dengan Johar.
Aryo menjelaskan, “Lahan kebun kopi kami kami biarkan tumbuh apa adanya. Saat musim panen tiba, kita akan melihat hasil dari tanaman kopi tersebut. Hasil panen ini dijual di pasar terdekat dengan harga tradisional untuk memenuhi kebutuhan kopi hitam bubuk





