Bengkulu – Tren gagal ginjal yang menyerang usia muda kian mengkhawatirkan, seiring bertambahnya pasien yang harus menjalani cuci darah akibat penurunan fungsi ginjal secara signifikan. Data medis menunjukkan, persoalan ini tidak lagi identik dengan kelompok lanjut usia, melainkan juga dialami generasi produktif.
Dokter spesialis urologi konsultan dari Siloam Hospitals Asri, Nur Rasyid, mengungkapkan terdapat tiga faktor dominan yang mendorong tingginya kasus gagal ginjal di Indonesia. Temuan itu didasarkan pada pola penyakit yang paling sering ditemukan pada pasien dengan gangguan ginjal.
“Bahwa orang gagal ginjal itu di Indonesia itu 29 persen diabetes, 20 persen infeksi, dan 19 persen hipertensi,” kata Prof Nur saat ditemui detik, Sabtu (14/2/2026).
Lebih lanjut, Prof Nur menyoroti kebiasaan sehari-hari yang kerap dianggap sepele, namun berpotensi merusak ginjal secara perlahan. Salah satunya adalah konsumsi garam berlebihan. Pola makan tinggi garam, menurutnya, berkontribusi langsung terhadap meningkatnya tekanan darah yang pada akhirnya membebani kerja ginjal.
“Biar nggak hipertensi, jangan banyak makan garam,” tegasnya.
Selain asupan asin, konsumsi makanan dan minuman manis juga dinilai berperan besar. Gula berlebih meningkatkan risiko diabetes, yang dikenal sebagai salah satu pemicu utama berbagai komplikasi penyakit, termasuk gagal ginjal. Prof Nur menekankan pentingnya pengendalian pola makan dan gaya hidup sehat untuk menekan risiko tersebut.
“Biar nggak diabetes, ya hidup sehat. Jangan gendut, jangan seneng manis, jangan makan karbohidrat berlebihan,” ujarnya.
Ia menambahkan, keseimbangan asupan cairan dan aktivitas fisik rutin menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan metabolik dan mencegah kerusakan ginjal sejak dini. “Minum yang cukup biar nggak gendut, olahraga teratur,” sambung Prof Nur.





