Alaku

Jakarta – Kasus serangan jantung pada usia muda terus menunjukkan peningkatan. Saat ini sekitar satu dari lima kasus serangan jantung terjadi pada kelompok usia di bawah 40 tahun, berdasarkan laporan riset Cardio Metabolic Institute.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kelompok usia muda yang selama ini dianggap lebih sehat ternyata tetap memiliki risiko mengalami serangan jantung berulang hingga gagal jantung jika penanganan penyebab utama tidak dilakukan secara optimal.

Serangan jantung pada usia muda umumnya dipicu kombinasi gaya hidup tidak sehat dan kondisi medis tertentu. Faktor risikonya meliputi obesitas, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, kurang aktivitas fisik, konsumsi makanan ultra processed food (UPF), stres kronis, kurang tidur, kebiasaan merokok, hingga konsumsi alkohol berlebihan.

Selain itu, riwayat keluarga dengan penyakit jantung pada usia dini juga disebut meningkatkan risiko secara signifikan. Peneliti bahkan mulai menyoroti kemungkinan kaitan komplikasi pasca COVID-19 dan mikroplastik dalam darah terhadap kesehatan jantung.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan kardiovaskular dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr dr Dede Moeswir, menjelaskan serangan jantung tidak hanya berbahaya pada fase darurat, tetapi juga dapat menimbulkan kerusakan permanen pada otot jantung.

“Saat seseorang mengalami serangan jantung, pembuluh darah pemasok oksigen ke jantung tersumbat. Akibatnya, sebagian otot jantung kekurangan oksigen dan mulai rusak,” ujar Dede dalam sidang promosi doktor yang dikutip dari laporan detikHealth.

Menurutnya, terapi utama yang dilakukan ialah membuka kembali pembuluh darah yang tersumbat melalui tindakan intervensi koroner perkutan menggunakan kawat khusus, balon, dan pemasangan stent atau ring jantung.

Namun, meski sumbatan berhasil dibuka, tidak semua pasien langsung pulih sepenuhnya. Sebagian pasien tetap mengalami kerusakan otot jantung yang dapat berujung pada gagal jantung.

“Sebagian pasien tetap dapat mengalami kerusakan otot jantung hingga berujung gagal jantung meski telah mendapatkan terapi optimal,” katanya.

Dalam kondisi gagal jantung, pasien biasanya mengalami gejala seperti mudah lelah, sesak napas, jantung berdebar, hingga pembengkakan pada kaki akibat kemampuan pompa jantung menurun.

Dede juga menyoroti adanya risiko cedera reperfusi, yakni kerusakan tambahan yang dapat terjadi setelah aliran darah kembali normal usai pemasangan stent. Kondisi itu memicu peradangan dan memperparah kerusakan jaringan jantung.

Untuk membantu memperbaiki kerusakan tersebut, ia mengembangkan penelitian terapi tambahan menggunakan sel punca mesenkimal atau mesenchymal stem cell yang diharapkan mampu membantu regenerasi otot jantung.

“Dengan pemberian terapi sel punca mesenkimal, diharapkan kerusakan otot jantung dapat dikurangi sehingga fungsi pompa jantung pasien membaik,” ujarnya.

Penelitian itu difokuskan pada pasien infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (IMA STE), yaitu jenis serangan jantung berat akibat sumbatan total pembuluh darah jantung.

Meski dinilai menjanjikan, terapi sel punca tersebut masih membutuhkan penelitian lanjutan dan pemantauan jangka panjang untuk memastikan efektivitasnya terhadap pemulihan fungsi jantung pasien.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan