Alaku

Salah Tekan Tombol Kripto, Pria Kehilangan Rp3,9 Miliar

Salah Tekan Tombol Kripto, Pria Kehilangan Rp3,9 Miliar. Foto: DW (News)

Jakarta – Keinginan meraup keuntungan cepat dari perdagangan kripto berujung kerugian besar bagi seorang pria yang mengaku keliru menekan tombol transaksi. Dana setara Rp3,9 miliar raib, sementara rumah keluarga yang dijadikan jaminan pinjaman kini terancam.

Kisah tersebut terungkap dalam program keuangan The Ramsey Show dan dilaporkan detik mengutip Yahoo Finance. Dalam acara itu, seorang perempuan yang disebut sebagai Kate menceritakan kondisi finansial keluarganya yang mendadak kacau.

Ia mengaku baru mengetahui suaminya meminjam dana dengan menjaminkan rumah utama mereka untuk investasi aset kripto. Nilai pinjaman mencapai USD 250.000 atau sekitar Rp3,9 miliar. Setelah mengetahui hal itu, Kate meminta seluruh aset kripto dijual agar dana kembali ke rekening bank. Namun beberapa hari kemudian, uang tersebut tak kunjung kembali.

Sang suami kemudian menyampaikan alasan bahwa ia tidak sengaja menekan tombol “sell short” alih-alih “sell”.

Dalam penjelasannya, co-host acara, George Kamel, menyebut praktik “sell short” bukan sekadar menjual aset. Strategi tersebut berarti meminjam aset yang tidak dimiliki untuk dijual dengan harapan harga turun, lalu membelinya kembali di harga lebih rendah. Skema ini dinilai berisiko tinggi, terutama di pasar kripto yang volatil.

“Sulit dipercaya seseorang bisa salah menekan tombol dalam transaksi sebesar itu,” ujarnya dalam acara tersebut.

Co-host lain, Ken Coleman, juga meragukan alasan tersebut. “Saya tidak ingin menyebutnya pembohong, tapi meteran kebohongan saya sedang bernyanyi sekarang,” ujar Coleman.

Selain kerugian miliaran rupiah, persoalan lain yang muncul adalah krisis kepercayaan dalam rumah tangga. Suami Kate diketahui memiliki penghasilan sekitar USD 300.000 per tahun atau setara Rp4,7 miliar. Keluarga itu juga mempunyai enam properti, terdiri atas empat rumah sewaan, satu rumah liburan, serta rumah utama, meski hampir seluruhnya masih dibebani hipotek besar.

Dengan kewajiban cicilan yang tinggi setiap bulan, arus kas keluarga disebut sangat ketat meski berpenghasilan besar. Keputusan meminjam dana dengan menjaminkan rumah tanpa sepengetahuan pasangan dinilai sebagai langkah finansial yang berisiko tinggi.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan risiko dan transparansi dalam keuangan keluarga memiliki peran penting, terlepas dari besarnya pendapatan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan