Bengkulu – Infeksi virus HIV kerap tidak disadari pada fase awal karena gejalanya menyerupai penyakit ringan. Padahal, mengenali tanda-tanda sejak dini menjadi kunci penting untuk mencegah kerusakan sistem kekebalan tubuh yang lebih parah.
Mengutip artikel kesehatan dari Halodoc, gejala awal HIV umumnya muncul dalam rentang dua hingga empat minggu setelah virus masuk ke dalam tubuh.
Dalam fase awal yang dikenal sebagai acute retroviral syndrome (ARS), tubuh mulai bereaksi terhadap keberadaan virus. Salah satu tanda yang paling sering muncul adalah demam tinggi di atas 38 derajat Celsius, disertai rasa lelah berlebihan dan sakit tenggorokan. Kondisi ini terjadi karena virus mulai menyerang dan merusak sel CD4, yaitu sel darah putih yang berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh.
Selain demam, kelelahan kronis juga menjadi keluhan umum pada fase awal infeksi. Rasa lemas yang muncul biasanya mirip dengan gejala influenza dan dapat disertai nyeri otot maupun sakit kepala. Pada sebagian orang, kelelahan ini berlangsung cukup lama dan tidak membaik meski sudah beristirahat.
Gejala lain yang perlu diwaspadai adalah pembengkakan kelenjar getah bening, terutama di area leher, ketiak, atau selangkangan. Pembengkakan ini dapat terjadi di lebih dari satu lokasi dan bertahan selama beberapa bulan, menandakan sistem imun sedang bekerja keras melawan infeksi.
Halodoc juga menjelaskan bahwa tidak semua orang yang terinfeksi HIV mengalami gejala awal yang jelas. Oleh karena itu, pemeriksaan atau tes HIV menjadi satu-satunya cara untuk memastikan keberadaan virus dalam tubuh, terutama bagi individu dengan faktor risiko tertentu.
Penularan HIV terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh yang terinfeksi, seperti darah, air mani, cairan vagina, dan ASI. Hubungan seksual tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik bersama, serta penularan dari ibu ke bayi menjadi jalur utama penyebaran virus. Sebaliknya, HIV tidak menular melalui kontak sehari-hari seperti berjabat tangan atau berbagi makanan.
Tanpa pengobatan, infeksi HIV dapat berkembang melalui tiga tahap, mulai dari fase akut, fase laten kronis, hingga tahap akhir AIDS. Pada tahap AIDS, jumlah sel CD4 turun drastis sehingga tubuh rentan terhadap infeksi berat dan penyakit oportunistik.
Berdasarkan data World Health Organization, jutaan orang di dunia hidup dengan HIV dan sebagian di antaranya belum menyadari status kesehatannya. Kondisi ini memperkuat pentingnya edukasi, deteksi dini, serta akses pengobatan antiretroviral (ARV) untuk menekan risiko komplikasi dan penularan lebih lanjut.
Halodoc menekankan, semakin cepat HIV terdeteksi, semakin besar peluang pengidap untuk menjalani hidup sehat dan produktif dengan pengobatan yang tepat. Pemeriksaan rutin dan kesadaran terhadap gejala awal menjadi langkah awal yang krusial dalam pengendalian HIV.





