Bengkulu – Malam Lailatul Qadar merupakan salah satu malam paling mulia dalam bulan Ramadan. Meski memiliki keutamaan besar, waktu pasti datangnya malam tersebut tidak diketahui secara pasti oleh manusia.
Keutamaan malam Lailatul Qadar disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al Qadr ayat 3 yang menyatakan bahwa malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan.
لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ٣
Artinya: “Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.”
Selain itu, dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ibadah pada malam Lailatul Qadar memiliki keutamaan besar berupa ampunan dosa bagi orang yang melaksanakannya dengan penuh keimanan.
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: “Barang siapa yang beribadah pada malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari).
Dilansir dari Detik, para ulama memiliki sejumlah pandangan terkait waktu terjadinya malam Lailatul Qadar. Dalam kitab Taisirul-Allam Syarh Umdatul-Ahkam karya Abdullah bin Abdurrahman Alu Bassam yang diterjemahkan Kathur Suhardi, pendapat yang paling kuat menyebutkan bahwa malam tersebut berada pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan.
Hal itu merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:
“Carilah Lailatul Qadar di malam ganjil dari 10 malam terakhir di bulan Ramadan.” (HR Bukhari).
Meski demikian, waktu pasti malam Lailatul Qadar tetap dirahasiakan oleh Allah SWT. Dalam buku Hikmah at-Tasyri’ wa Falsafatuhu karya Syekh Ali Ahmad Al Jarjawi yang diterjemahkan Faisal Saleh dan lainnya dijelaskan bahwa kerahasiaan tersebut memiliki hikmah agar umat Islam bersungguh-sungguh memuliakan setiap malam Ramadan.
Dengan dirahasiakannya waktu malam tersebut, umat Islam terdorong untuk terus meningkatkan ibadah dan berharap mendapatkan keutamaan malam Lailatul Qadar. Jika waktu pastinya diketahui, dikhawatirkan umat hanya akan beribadah pada satu malam tertentu saja.
Dalam buku Rahasia Puasa Ramadhan karya Yasin T Al-Jibouri dan Mirza Javad Agha Maliki Tabrizi juga dijelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah mengetahui waktu datangnya malam tersebut. Namun pengetahuan itu kemudian diangkat kembali oleh Allah SWT.
Ubadah bin Shamit RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW sempat ingin menyampaikan informasi tersebut kepada para sahabat. Namun hal itu tidak jadi disampaikan karena terjadi perselisihan di antara dua orang muslim.
“Sungguh aku datang kepada kalian untuk memberitahukan tentang Lailatul Qadar, tetapi dua orang saling bertengkar sehingga pengetahuannya diangkat.” (HR Bukhari).
Sejumlah ulama juga memiliki pandangan berbeda mengenai waktu malam Lailatul Qadar. Sebagian berpendapat malam tersebut berada pada salah satu malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan, yakni malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29.
Dalam buku 10 Malam Akhir Ramadan karya Shabri Shaleh Anwar disebutkan bahwa Imam Ahmad meyakini malam tersebut terjadi pada malam ke-27 Ramadan. Sementara itu, Ibnu Hajar Al Asqalani berpendapat bahwa malam tersebut dapat terjadi pada tujuh hari terakhir Ramadan berdasarkan hadis Nabi SAW.
“Aku tahu bahwa kalian melihat Lailatul Qadar pada 7 hari terakhir Ramadan. Siapa yang sungguh-sungguh dalam mencarinya, maka carilah di 7 hari terakhir dari bulan Ramadan.” (HR Bukhari dan Muslim).
Karena waktu pastinya tidak diketahui, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan dengan harapan dapat meraih keutamaan malam Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.





