Pakar Neurosains Sebut Gen Z Alami Penurunan Prestasi Akademik

Jakarta – Seorang pakar neurosains pendidikan asal Amerika Serikat menilai Generasi Z (Gen Z) mengalami penurunan kemampuan akademik dibanding generasi sebelumnya. Pernyataan itu disampaikan Dr Jared Cooney Horvath dan dikutip detik dari New York Post.
Horvath menyebut Gen Z sebagai generasi pertama dalam sejarah modern yang mencatat nilai lebih rendah pada tes akademik standar dibanding pendahulunya.
“Mereka adalah generasi pertama dalam sejarah modern yang mendapat nilai lebih rendah pada tes akademik standar dibandingkan generasi sebelumnya,” kata Horvath.
Ia menilai penurunan terjadi pada hampir seluruh aspek kognitif, mulai dari perhatian dasar, memori, kemampuan membaca dan menulis, berhitung, fungsi eksekutif, hingga IQ umum. Meski demikian, menurutnya banyak anak muda tetap merasa percaya diri terhadap tingkat kecerdasan mereka.
“Dan yang lebih buruk lagi, sebagian besar anak muda ini terlalu percaya diri tentang betapa pintarnya mereka. Semakin pintar seseorang menganggap dirinya, semakin bodoh sebenarnya mereka,” imbuhnya.
Efek Paparan Layar
Berdasarkan analisis berbagai data tes standar, Horvath menyimpulkan penurunan prestasi tersebut berkaitan dengan tingginya paparan layar (screen time). Ia menilai kebiasaan belajar melalui layar tidak sepenuhnya mampu menggantikan proses pembelajaran langsung antarmanusia.
Menurutnya, lebih dari separuh waktu terjaga remaja dihabiskan untuk menatap layar. Padahal secara biologis, manusia belajar lebih efektif melalui interaksi mendalam, bukan sekadar ringkasan informasi digital.
“Lebih dari separuh waktu seorang remaja terjaga, separuhnya dihabiskan untuk menatap layar,” ujar Horvath, yang pernah mengajar di berbagai universitas dunia, termasuk Harvard dan Universitas Melbourne.
Minim Baca Buku
Horvath juga menyoroti kebiasaan Gen Z yang dinilai lebih banyak menghabiskan waktu dengan media sosial dibanding membaca buku secara mendalam. Aktivitas seperti bermain TikTok, berkirim pesan lewat Snapchat, atau mengonsumsi konten motivasi singkat dianggap membuat pola membaca menjadi sekilas tanpa pendalaman.
“Belajar dari layar telah mengubah mereka menjadi pembaca yang hanya membaca sekilas, dan tanpa usaha yang sungguh-sungguh, bahkan pikiran yang cemerlang pun bisa menjadi tumpul,” katanya.
Sebagai solusi, ia mendorong sekolah membatasi waktu penggunaan layar dan mendorong siswa kembali pada metode belajar konvensional seperti membaca buku secara intensif dan belajar mendalam untuk persiapan ujian.
Horvath juga menyebut fenomena ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, tetapi di puluhan negara lain yang mengadopsi teknologi digital secara luas dalam sistem pendidikan. Menurutnya, setiap kali teknologi masuk secara dominan ke ruang kelas, capaian pembelajaran cenderung menurun.
“Setiap kali teknologi masuk ke dunia pendidikan, pembelajaran akan menurun,” tuturnya.






