Penulis: Shinta Lestari Oktarini – Universitas Bangka Belitung
BELAKANGAN ini banyak sekali yang menghebohkan kita semua dalam dunia pendidikan terkhususnya pendidik itu sendiri. Banyak sekali berseliweran video-video yang mengulas pendidik mengundurkan diri dari bekerja di suatu sekolah karena lingkungan yang tidak support sehingga timbul rasa ketidaknyamanan dan terganggunga mental pendidik tersebut. Hal ini juga dapat berdampak dalam kualitas pengajaran. Lalu bagaimana Islam memandang fenomena ini?
Dalam Islam Kesehatan mental adalah suatu kemampuan diri individu dalam mengelola terwujudnya keserasian antara fungsi- fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian dengan diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan sekitarnya secara dinamis berdasarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai pedoman hidup menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. (Nurul Ikhsan, 2023)
Islam begitu sangat memperhatikan semua aspek termasuk kesehatan mental yang khususnya pendidik yang sedang disoroti oleh masyarakat, Seorang guru adalah merupakan teladan bagi siswanya, maka seorang guru pelu memiliki mental yang baik ketika menghapi siswanya, maka sudah sepatutnya seorang guru dapat mengontrol jiwanya dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Cara membina mental yang sehat menurut Islam mudah untuk dilakaukan namun perlunya konsisten bagi pendidik. Cara membina mental yang sehat;
1. Menjaga Sholat
2. zikir
3. berdoa
4. bersyukur
Dalam alquran mengajarkan kepada kita bahwa bahkan orang-orang terhebat, mulai dari para nabi dan rasul Allah hingga orang-orang suci, pernah mengalami masa-masa kesusahan, kesedihan, atau kesedihan yang mendalam . Kita dapat belajar dari hal ini bahwa emosi seperti itu merupakan bagian normal dari pengalaman manusia. Sama seperti Allah memberi kita kehidupan, Dia juga memberi kita emosi.
Agama dalam kehidupan berfungsi untuk memlihara fitrah, jiwa, akal dan keturunan. Menurut Zakiah Drajat, salah satu peranan agama bagi kesehatan mental adalah sebagai terapi (penyembuhan) bagi gangguan kejiwaan.
Oleh karena itulah, Islam sangat memperahatikan peran serta kesehatan mental Guru. Guru dalam islam sangat dimuliakan. Derajat Guru berkedudukan tinggi di sisi Allah swt. Melalui Gurulah siswa banyak meraih ilmu dan terjaminnya jembatan keberkahannya. Jika berkah, maka tumbuh subur kebermanfaatan ilmunya. (Arief, 2023) Syaikh Hasyim Asy’ari dalam kitabnya adabul ‘alim wal muta’allim menegaskan perhatiannya terhadap Guru, karena akhlak Guru sekalipun sangat berpengaruh pada akhlak muridnya. Jika memang akhlak Guru berpengaruh, maka seyogyanya mental Guru harus dalam keadaan sehat. Sebaliknya, jika mentalnya terganggu (disorder mental), maka akhlaknya ikut terpengaruh. Oleh karena itu, besarnya apresiasi pahala dalam islam bagi para Guru merupakan salah satu upaya dalam memelihara kesehatan mental. Agar supaya Guru dapat merasa bangga dengan profesinya dan termotivasi untuk memberikan yang terbaik dalam mendidik.







