Alaku

Robot AI Diprediksi Salip Pekerja Manusia, Ini Analisis Soal Dampaknya ke Dunia Kerja

Robot AI Diprediksi Salip Pekerja Manusia, Ini Analisis Soal Dampaknya ke Dunia Kerja (foto:canva)

JakartaRobot AI diperkirakan akan mengubah peta ketenagakerjaan global secara drastis dalam beberapa dekade mendatang. Perkembangan pesat kecerdasan buatan dan robotika disebut berpotensi membuat jumlah pekerja robot melampaui tenaga kerja manusia, seiring dorongan dunia usaha untuk terus meningkatkan profitabilitas.

Pandangan tersebut disampaikan Rob Garlick, mantan Head of Innovation, Technology, and Future of Work, dalam wawancara dengan CNBC yang dikutip detikINET, Selasa (24/2/2026). Menurut Garlick, orientasi bisnis yang menempatkan laba sebagai prioritas utama akan mendorong adopsi Robot AI secara masif untuk menggantikan peran manusia.

“Kita memiliki sistem kepemimpinan dalam hal ekonomi dan bisnis yang mengagungkan profitabilitas,” kata Garlick. Ia menambahkan, ketika kepentingan keuntungan bertemu dengan kemajuan teknologi, akan terjadi pergeseran besar dalam dunia kerja.
“Ketika Anda menggabungkan profitabilitas dengan kemajuan teknologi, kita akan menyaksikan perdagangan terbesar dalam sejarah, yang pada dasarnya adalah kecerdasan buatan akan melakukan lebih banyak, lebih baik, dan lebih murah, dan itu akan mampu menggantikan peran manusia,” sambungnya.

Garlick mengungkapkan, riset yang ia lakukan saat masih bekerja di Citi menunjukkan populasi Robot AI berpotensi melampaui jumlah pekerja manusia akibat kebijakan bisnis yang berorientasi efisiensi.
“Dalam beberapa dekade mendatang, jumlah robot yang aktif akan melebihi jumlah pekerja, lalu ditambah lagi dengan agen-agen AI kecil, dan jumlahnya akan meledak,” ujarnya.

Laporan Citi yang dirilis pada 2024 memproyeksikan populasi robot AI, mulai dari robot humanoid hingga kendaraan otonom, akan mencapai 1,3 miliar unit pada 2035. Angka tersebut diperkirakan melonjak tajam hingga sekitar 4 miliar unit pada 2050.

Selain proyeksi jumlah, laporan itu juga menghitung tingkat efisiensi investasi penggunaan Robot AI. Sebuah robot seharga USD 15.000, misalnya, disebut mampu balik modal hanya dalam 3,8 minggu jika menggantikan pekerjaan manusia dengan upah USD 41 per jam. Sementara robot senilai USD 35.000 diperkirakan mencapai titik impas dalam 8,9 minggu untuk pekerjaan dengan tingkat upah yang sama.

“Anda saat ini sudah bisa membeli robot humanoid yang memberikan periode pengembalian modal kurang dari 10 minggu dibandingkan pekerja manusia. Manusia tidak dapat bersaing dalam hal ini,” pungkas Garlick, menegaskan tantangan besar yang akan dihadapi tenaga kerja manusia di era Robot AI.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan