London – Pola hujan musim dingin di belahan Bumi utara, terutama di Eropa, berubah lebih cepat dari perkiraan ilmuwan. Data terbaru menunjukkan kondisi yang sebelumnya diprediksi baru muncul pada pertengahan abad ini ternyata sudah terjadi saat ini, seiring percepatan pemanasan global akibat aktivitas manusia.
Laporan yang dikutip dari detik menyebutkan, analisis terhadap data periode 1950 hingga 2024 menemukan peningkatan signifikan curah hujan musim dingin di kawasan utara dan tengah Eropa, termasuk Inggris. Penelitian tersebut dipimpin Dr. James Carruthers, ilmuwan iklim dari Newcastle University, Inggris.
Menurut Carruthers, wilayah utara Eropa kini mengalami musim dingin yang jauh lebih lembap dibandingkan dekade-dekade sebelumnya, bahkan melampaui proyeksi model iklim lama.
“Musim hujan musim dingin di wilayah utara Eropa menjadi jauh lebih basah dari apa yang diprediksi model sampai sekitar tahun 2040-an,” kata Carruthers, dikutip dari Earth.com.
Perubahan ini berkaitan dengan dampak pemanasan global terhadap sirkulasi atmosfer dan arus laut yang mengatur distribusi tekanan udara serta kelembapan. Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca membuat suhu atmosfer naik, sehingga udara mampu menyimpan lebih banyak uap air. Saat mencapai titik jenuh, kandungan uap air tersebut turun dalam bentuk hujan dengan intensitas lebih tinggi.
Kondisi tersebut memunculkan konsekuensi serius bagi risiko banjir dan ketahanan infrastruktur. Wilayah yang sebelumnya terbiasa dengan curah hujan ringan pada musim dingin kini menghadapi hujan lebat yang datang lebih sering. Situasi ini meningkatkan potensi genangan dan banjir di periode yang dulu relatif stabil.
Para peneliti menilai percepatan perubahan pola hujan ini menjadi sinyal bahwa dinamika perubahan iklim berlangsung lebih cepat dibandingkan simulasi model sebelumnya. Karena itu, pembaruan proyeksi iklim serta strategi mitigasi dinilai mendesak agar kebijakan dan perencanaan adaptasi lebih sesuai dengan kondisi aktual di lapangan.





