Aksi "Draw The Line": Desak Transisi Energi Bersih Segera Dilaksanakan
Ratusan peserta yang terdiri dari mahasiswa, pelajar, komunitas, dan jaringan masyarakat sipil di Bengkulu menggelar aksi kampanye iklim bertajuk “Draw The Line: Saatnya Energi Bersih, Bukan Janji!” pada Minggu (21/9/25) di Simpang Lima Kota Bengkulu (foto: dok Awang Konaeviartikel.repoeblik.com/)

Aksi “Draw The Line”: Desak Transisi Energi Bersih Segera Dilaksanakan

Diposting pada
Editor: Oktaliansyah

Bengkulu – Ratusan peserta yang terdiri dari mahasiswa, pelajar, komunitas, dan jaringan masyarakat sipil di Bengkulu menggelar aksi kampanye iklim bertajuk “Draw The Line: Saatnya Energi Bersih, Bukan Janji!” pada Minggu (21/9/25) di Simpang Lima Kota Bengkulu. Aksi yang dimulai pukul 15.00 WIB ini merupakan bagian dari kampanye global yang diinisiasi oleh organisasi iklim internasional 350.org.

Koordinator aksi, Yayuk Anastasia, menegaskan bahwa masyarakat dunia harus menarik garis batas terhadap penggunaan energi kotor seperti batubara, minyak, dan gas, yang menjadi penyebab utama krisis iklim. Di Bengkulu, persoalan ini menjadi sangat relevan karena masyarakat merasakan langsung dampak buruk keberadaan PLTU Batubara Teluk Sepang.

“Kami tidak ingin hanya janji-janji transisi energi. Kami ingin aksi nyata dan segera. PLTU telah merusak udara, tanah, air, dan kesehatan masyarakat Bengkulu,” tegas Yayuk.

Menurutnya, krisis iklim semakin nyata dirasakan. Pemanasan global akibat emisi dari pembakaran batubara disebut memperparah cuaca ekstrem, banjir, longsor, serta kerusakan lingkungan lainnya. Selain itu, limbah PLTU seperti Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) juga mencemari lahan permukiman warga. Dari sisi kesehatan, warga sekitar PLTU rentan menderita ISPA, asma, hingga kanker akibat tingginya polusi udara.

Peserta aksi menekankan bahwa Bengkulu memiliki potensi besar untuk mengembangkan energi terbarukan. “Transisi energi bukan hanya mungkin, tapi harus dilakukan. Kita punya sumber daya, tinggal kemauan politik dan kebijakan yang berpihak pada rakyat dan lingkungan,” lanjut Yayuk.

Dalam pernyataan sikap, massa aksi menyampaikan lima tuntutan utama:

  1. Pemerintah pusat dan daerah segera menghentikan ketergantungan pada PLTU batubara dan energi fosil, serta memulai transisi energi bersih yang adil.
  2. Presiden Republik Indonesia tidak memberikan izin baru untuk tambang batubara, PLTU, dan proyek energi fosil lainnya.
  3. Aparat penegak hukum menindak tegas kejahatan lingkungan oleh industri batubara sesuai dengan UU No. 32 Tahun 2009.
  4. Kementerian ESDM mempercepat implementasi energi baru terbarukan sesuai amanat UU No. 30 Tahun 2007 dan Perpres No. 112 Tahun 2022.
  5. Pemerintah Indonesia menunjukkan komitmen nyata dalam forum internasional seperti COP 30 di Belém, Brasil, untuk menghentikan energi kotor dan mengejar target Perjanjian Paris.

Aksi ditutup dengan pernyataan komitmen bersama dari seluruh peserta, bahwa perjuangan melawan energi kotor adalah bagian dari upaya mewujudkan kehidupan yang layak, sehat, dan berkelanjutan.

“Perubahan menuju energi bersih bukan pilihan lagi, tapi keharusan. Kami, masyarakat Bengkulu, berdiri di garis depan untuk memastikan masa depan yang hijau, bersih, dan berkeadilan,” ujar Michelia Bano Syafitri, perwakilan mahasiswa.

Narasumber:

  • Yayuk Anastasia (+62 813-6897-7949) – Koordinator Aksi
  • Michelia Bano Syafitri (+62 852-6930-6210) – Perwakilan mahasiswa/pelajar
Gambar Gravatar
Penulis artikel kesehatan, keuangan, Islam, sepak bola, olahraga, dan prediksi bola yang menghadirkan informasi terbaru, akurat, informatif, dan mudah dipahami pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *