Tawaf Ifadah
Jamaah Haji (dok:istimewa)

Ali bin Al-Muwaffaq Gagal Berangkat Haji, Tapi Dapat Pahala Haji

Diposting pada
Editor: Oktaliansyah

Damaskus – Kisah seorang penjual sepatu di Damaskus, Suriah, bernama Ali bin Al-Muwaffaq, menjadi salah satu cerita yang kerap dikisahkan dalam literatur Islam tentang keutamaan keikhlasan dan kepedulian terhadap sesama. Setelah menabung selama 40 tahun untuk menunaikan ibadah haji, Ali memilih menyerahkan seluruh tabungannya kepada keluarga tetangganya yang sedang kelaparan.

Dalam buku 198 Kisah Haji Wali-wali Allah karya Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny, disebutkan Ali berhasil mengumpulkan 350 dirham dari hasil usahanya berdagang sepatu. Uang itu sedianya digunakan untuk berangkat ke Tanah Suci.

Namun, ujian datang ketika istrinya yang tengah mengandung mencium aroma masakan dari rumah tetangga. Ia kemudian meminta Ali mendatangi rumah tersebut dengan harapan bisa memperoleh sedikit makanan.

Saat tiba di rumah tetangganya, Ali justru mendapati kenyataan yang menyedihkan. Sang tetangga mengaku dirinya dan anak-anaknya sudah tiga hari tidak mendapatkan makanan. Karena terdesak keadaan, ia mengambil bangkai seekor keledai untuk dimasak.

“Ini bukan makanan yang halal bagimu,” kata tetangga tersebut kepada Ali.

Mendengar penjelasan itu, Ali bin Al-Muwaffaq tersentuh. Ia segera pulang dan mengambil seluruh tabungan hajinya yang berjumlah 350 dirham untuk diberikan kepada keluarga tersebut agar dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka.

“Belanjakanlah ini untuk anakmu,” ujar Ali saat menyerahkan uang tersebut.

Kisah itu kemudian dikaitkan dengan pengalaman mimpi seorang ulama hadits terkemuka, Abdullah bin al-Mubarak. Dalam riwayat yang termuat dalam buku tersebut, Abdullah bin Al-Mubarak bermimpi melihat dua malaikat berbincang setelah musim haji berakhir di Makkah.

Dalam percakapan itu disebutkan terdapat sekitar 600 ribu jemaah yang datang berhaji pada tahun tersebut. Ketika salah satu malaikat bertanya berapa banyak ibadah haji yang diterima, malaikat lainnya menjawab bahwa tidak ada satu pun yang diterima.

Malaikat itu kemudian menyebut satu nama yang memperoleh keutamaan besar, yakni Ali bin Al-Muwaffaq, meski ia tidak berangkat ke Tanah Suci. Dalam mimpi tersebut, Ali disebut mendapatkan pahala haji yang diterima dan ampunan atas dosa-dosanya karena keikhlasan membantu sesama yang sedang kesulitan.

Dikisahkan, setelah terbangun dari mimpinya, Abdullah bin Al-Mubarak bergegas menuju Damaskus untuk memastikan kebenaran kisah tersebut. Di sana, ia menemukan sosok Ali bin Al-Muwaffaq sebagaimana yang disebutkan dalam mimpinya.

Kisah ini dikenal luas di kalangan umat Islam sebagai cerita hikmah yang menekankan pentingnya keikhlasan, kepedulian sosial, dan pengorbanan dalam membantu orang yang membutuhkan. Wallahu a’lam.

Gambar Gravatar
Penulis artikel kesehatan, keuangan, Islam, sepak bola, olahraga, dan prediksi bola yang menghadirkan informasi terbaru, akurat, informatif, dan mudah dipahami pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *