Jakarta – Produsen wadah penyimpanan makanan asal Amerika Serikat, Tupperware, kini berada di ambang kebangkrutan. Beberapa anak perusahaan Tupperware di AS telah mengajukan kebangkrutan akibat kerugian besar yang terus membengkak.
Presiden dan CEO Tupperware Brands Corporation, Laurie Ann Goldman, mengonfirmasi bahwa pihaknya akan meminta izin pengadilan untuk memulai proses penjualan bisnis. Meski demikian, perusahaan masih berharap bisa terus beroperasi selama proses kebangkrutan berlangsung.
Pada tahun 2023 lalu, Tupperware sudah memperingatkan adanya kemungkinan kebangkrutan jika perusahaan gagal memperoleh pendanaan baru. Berbagai upaya dilakukan, termasuk mencoba menarik pelanggan yang lebih muda, namun belum memberikan hasil signifikan.
Laurie Ann Goldman menegaskan bahwa Tupperware berencana tetap melayani para pelanggan dengan produk-produk berkualitas tinggi selama masa sulit ini.
Saham Anjlok, Penurunan Penjualan Terus Berlanjut
Kabar mengenai rencana pengajuan kebangkrutan ini telah menyebabkan saham Tupperware jatuh lebih dari 50% dalam minggu ini. Perusahaan ini sudah bertahun-tahun berjuang menghadapi penurunan penjualan yang terus terjadi, meskipun sempat mengalami lonjakan selama pandemi ketika tren memasak di rumah meningkat.
Sayangnya, kenaikan biaya bahan baku, upah, dan transportasi turut menggerus margin keuntungan perusahaan. Akibatnya, Tupperware kini bersiap mengajukan pailit, meski keputusan final mengenai hal tersebut masih bisa berubah.
Dominasi Tupperware dalam Industri Wadah Penyimpanan
Selama beberapa dekade, Tupperware dikenal sebagai pionir di pasar wadah penyimpanan makanan, bahkan namanya sudah menjadi sinonim untuk produk sejenis, meskipun bukan merek Tupperware.
Didirikan pada tahun 1946 oleh Earl Tupper, perusahaan ini menjadi terkenal pada era 1950-an dan 1960-an melalui “Pesta Tupperware,” di mana orang-orang menjual produk Tupperware kepada teman dan tetangga di rumah mereka.
Kini, meski berada di tepi jurang kebangkrutan, Tupperware masih berusaha bertahan di tengah berbagai tantangan yang dihadapi industri bisnis global.





