Alaku

Jakarta – Kemajuan teknologi AI image generator membuat foto buatan kecerdasan buatan kini semakin sulit dibedakan dari gambar asli. Namun di balik visual yang makin realistis, para pakar forensik digital menemukan satu kelemahan mendasar yang hingga kini masih sulit ditutupi AI, yakni pemahaman terhadap hukum fisika cahaya dan perspektif.

Temuan itu diungkap dalam studi yang dipublikasikan jurnal Science. Peneliti menyebut model AI modern memang berhasil menghilangkan banyak cacat visual lama seperti bentuk tangan aneh, anatomi tubuh tidak proporsional, hingga teks acak yang sebelumnya sering muncul pada gambar buatan AI.

Meski begitu, sistem AI dinilai masih gagal memahami cara kerja geometri dan pencahayaan di dunia nyata. Celah tersebut kini dimanfaatkan para ahli forensik gambar untuk membedakan foto asli dengan hasil generatif AI.

Profesor dari University of California Berkeley, Hany Farid, yang dikenal sebagai pelopor forensik digital, menyebut salah satu kesalahan paling mudah dikenali ada pada konsep titik hilang atau vanishing point.

Menurut Farid, garis-garis sejajar di dunia nyata seperti pola ubin lantai, koridor, hingga papan kayu seharusnya mengarah ke satu titik temu yang konsisten. Pada gambar AI, pola tersebut kerap terlihat tidak sinkron ketika diuji menggunakan garis bantu.

“Generator gambar AI belum memahami pelajaran dasar seni mengenai titik hilang,” tulis laporan tersebut, seperti dirangkum detikINET, Sabtu (9/5/2026).

Selain perspektif, kesalahan lain yang kerap muncul berada pada pantulan cahaya dan arah bayangan. AI disebut mampu membuat refleksi yang terlihat meyakinkan secara visual, tetapi gagal mempertahankan logika geometrinya.

Dalam foto asli, garis antara objek dan pantulannya akan bergerak sejajar menuju titik hilang yang sama. Pada gambar AI, arah pantulan sering melenceng sehingga tidak sesuai hukum fisika.

Hal serupa juga ditemukan pada bayangan matahari. Karena cahaya matahari bergerak sejajar, arah bayangan seluruh objek dalam satu foto seharusnya konsisten. Namun pada gambar AI, bayangan kerap bertabrakan dan datang dari arah pencahayaan yang berbeda.

Para peneliti menilai kelemahan tersebut masih menjadi tantangan besar bagi model AI generatif saat ini. Berbeda dengan cacat visual sederhana yang cepat diperbaiki, pemahaman fisika tiga dimensi dianggap jauh lebih kompleks untuk dipelajari sistem AI.

Di sisi lain, peneliti juga mengingatkan masyarakat agar tidak sepenuhnya bergantung pada software pendeteksi AI otomatis. Sebab, alat deteksi digital juga dapat keliru ketika menemukan gambar dengan gaya visual yang berada di luar data pelatihannya.

Menariknya, studi lain yang turut disorot dalam laporan itu menyebut kondisi saat ini justru membuat foto asli lebih sulit diverifikasi dibanding mendeteksi gambar palsu. Semakin lama sebuah foto diperiksa tanpa ditemukan kesalahan fisika, maka kemungkinan besar gambar tersebut memang asli.

Fenomena itu menunjukkan bahwa di tengah maraknya deepfake dan gambar sintetis, konsistensi hukum cahaya, perspektif, serta bayangan kini menjadi salah satu penanda paling kuat untuk menguji keaslian sebuah foto.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alaku

Iklan