Jakarta – Pemerintah belum memberi kepastian sampai kapan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia akan tetap ditahan di tengah lonjakan harga minyak dunia. Namun, ekonom menilai ruang pemerintah untuk mempertahankan harga, termasuk BBM nonsubsidi, makin terbatas jika tren kenaikan minyak berlanjut hingga akhir tahun.
Di tengah negara-negara Asia Tenggara yang mulai menyesuaikan harga energi, Indonesia justru masih menahan laju kenaikan. Baik Presiden, Kementerian Sekretariat Negara, maupun Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) belum mengumumkan batas waktu kebijakan tersebut, meski masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak melakukan panic buying.
Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies, Piter Abdullah, menilai kebijakan menahan harga BBM tidak akan mudah dipertahankan dalam jangka panjang. Menurutnya, tekanan akan semakin besar jika harga minyak global tetap tinggi sampai penghujung 2026.
“Apabila kenaikan harga minyak berlangsung hingga akhir tahun, akan semakin sulit menahan harga BBM tidak naik,” kata Piter dalam keterangan tertulis yang dikutip Sabtu (4/4/2026). Ia menambahkan, penyesuaian harga energi dalam kondisi tertentu merupakan respons kebijakan yang wajar selama dibarengi kompensasi yang tepat sasaran.
Piter mengingatkan, lonjakan harga energi tidak berdiri sendiri. Kombinasi kenaikan harga minyak, pelemahan nilai tukar rupiah, dan tekanan fiskal dinilai berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan bila tidak diantisipasi sejak dini.
Menurut dia, koordinasi lintas otoritas ekonomi menjadi faktor penting dalam situasi global yang penuh ketidakpastian. “Dalam kondisi seperti ini, koordinasi melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menjadi krusial,” ujarnya.
Ia menyebut pelaku usaha dan pasar kini menunggu arah kebijakan dari Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Kementerian Keuangan. Sinyal yang jelas dari para otoritas tersebut dinilai penting untuk menjaga kepercayaan pasar dan memastikan stabilitas ekonomi tetap terjaga.
Tekanan terhadap kebijakan harga BBM juga makin terasa karena harga minyak dunia kini sudah jauh melampaui asumsi dasar dalam APBN 2026. Jika dalam anggaran negara harga minyak dipatok di kisaran US$ 70 per barel, harga pasar saat ini sudah menembus level US$ 100 per barel.
Board of Experts Prasasti yang juga mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Halim Alamsyah, menilai dampaknya bisa merembet ke pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam skenario harga minyak tinggi yang berlangsung lama, laju ekonomi Indonesia diperkirakan melambat dari rata-rata pertumbuhan beberapa tahun terakhir.
“Dalam skenario harga minyak tinggi yang berkepanjangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga berpotensi melambat. Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi dapat turun ke kisaran 4,7-4,9 persen,” kata Halim.
Meski begitu, hingga awal April 2026, harga BBM di sejumlah SPBU masih belum berubah. Untuk BBM nonsubsidi Pertamina per 1 April 2026, Pertamax dibanderol Rp12.300 per liter, Pertamax Turbo Rp13.100 per liter, Pertamax Green 95 Rp12.900 per liter, Dexlite Rp14.200 per liter, dan Pertamina Dex Rp14.500 per liter.
Sementara itu, harga BBM BP tercatat BP 92 Rp12.390 dan BP Ultimate Diesel Rp14.620. Adapun Vivo menjual Revvo 92 seharga Rp12.390, Revvo 95 Rp12.930, serta Diesel Primus Rp14.610.
Dengan belum adanya pengumuman resmi dari pemerintah, arah kebijakan harga BBM masih menjadi perhatian publik dan pelaku usaha. Jika tekanan minyak global terus bertahan, penyesuaian harga dinilai hanya tinggal menunggu waktu.





