Jakarta – Kebiasaan minum kopi setiap hari ternyata bukan hanya berkaitan dengan energi dan konsentrasi tubuh. Penelitian terbaru mengungkap kopi juga memiliki hubungan dengan ekosistem mikroba di dalam usus manusia.
Riset yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature menemukan peminum kopi cenderung memiliki kadar bakteri usus tertentu lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi kopi.
Dalam penelitian tersebut, ilmuwan menganalisis data pola makan dari 22.867 responden di Amerika Serikat dan Britania Raya. Hasil itu kemudian dibandingkan dengan lebih dari 54 ribu sampel mikrobioma usus dari berbagai basis data publik.
Dari analisis tersebut, peneliti menemukan keterkaitan yang konsisten antara konsumsi kopi dan perubahan komposisi mikroba usus pada berbagai kelompok penelitian.
Temuan paling menonjol mengarah pada bakteri Lawsonibacter asaccharolyticus. Bakteri yang pertama kali diisolasi pada 2018 itu ditemukan sekitar 4,5 hingga 8 kali lebih tinggi pada orang yang rutin mengonsumsi kopi dalam jumlah banyak dibandingkan kelompok yang tidak minum kopi sama sekali.
Jumlah bakteri itu juga tercatat lebih tinggi pada peminum kopi dalam kategori sedang.
Menariknya, kaitan tersebut tidak hanya ditemukan pada kopi berkafein. Saat peneliti meneliti kelompok peminum kopi tanpa kafein, keberadaan bakteri Lawsonibacter asaccharolyticus tetap muncul dalam jumlah tinggi.
Hasil itu memunculkan dugaan bahwa bukan hanya kafein yang berpengaruh, melainkan ada senyawa lain dalam kopi yang turut memengaruhi pertumbuhan bakteri usus.
Dalam pengujian laboratorium, peneliti mencoba menumbuhkan bakteri tersebut dengan menambahkan kopi ke media pertumbuhannya. Hasilnya, Lawsonibacter asaccharolyticus berkembang lebih baik pada beberapa kadar kopi tertentu, termasuk kopi tanpa kafein.
Penelitian juga menyoroti hubungan antara kopi dan senyawa kimia dalam darah. Dari pemeriksaan metabolit pada sampel darah peserta, peneliti menemukan asam quinic memiliki keterkaitan kuat dengan konsumsi kopi dan keberadaan bakteri tersebut.
Seperti diberitakan DetikHealth, penelitian ini memperkuat dugaan bahwa senyawa dalam kopi dapat diproses oleh mikrobioma usus dan memengaruhi jenis bakteri yang berkembang di saluran pencernaan.
Meski demikian, peneliti menegaskan hasil studi tersebut belum bisa dijadikan dasar bahwa kopi merupakan obat atau solusi kesehatan tertentu. Penelitian ini baru menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi kopi, bakteri usus, dan perubahan senyawa kimia dalam tubuh.
Belum ada bukti pasti apakah peningkatan bakteri Lawsonibacter asaccharolyticus benar-benar berdampak langsung terhadap kesehatan manusia atau apakah mulai rutin minum kopi akan memberikan manfaat tertentu bagi orang yang sebelumnya tidak mengonsumsinya.





