Studi di Prancis: Golongan Darah A dan B Berisiko Lebih Tinggi Diabetes
Studi di Prancis: Golongan Darah A dan B Berisiko Lebih Tinggi Diabetes. Ilustrasi (Foto: Getty Images/Suriyawut Suriya)

BPOM Setujui Label Nutri-Level, Pemerintah Tekan Konsumsi Gula Berlebih

Diposting pada
Editor: Oktaliansyah

Jakarta – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI resmi menyetujui revisi aturan pencantuman label Nutri-Level pada produk pangan olahan, sebagai langkah menekan konsumsi gula berlebih yang dinilai semakin mengkhawatirkan di Indonesia.

Kepala BPOM Taruna Ikrar menyatakan sistem pelabelan tersebut akan menggunakan indikator warna dan huruf untuk memudahkan masyarakat mengenali kandungan gizi suatu produk secara cepat.

“Dua hari yang lalu kami telah putuskan, kita menggunakan sistem apa yang kita sebut dengan alfabet dan berdasarkan warna,” ujar Taruna di Jakarta Pusat, Rabu (8/4/2026).

Kebijakan ini hadir di tengah meningkatnya konsumsi minuman berpemanis atau sugar sweetened beverages (SSB) yang berkontribusi terhadap risiko penyakit tidak menular, termasuk diabetes.

Dosen Departemen Gizi Masyarakat IPB University, Dr Zuraidah Nasution, mengingatkan bahwa asupan gula masyarakat dari minuman sudah mendekati bahkan melampaui batas aman harian.

“Batas asupan gula yang dianjurkan per hari sekitar 50 gram. Bayangkan, 50 persen dari batas itu terkadang sudah terpenuhi hanya dari satu porsi minuman berpemanis saja,” ujarnya.

Data Kementerian Kesehatan juga menunjukkan konsumsi gula dari minuman dapat mencapai sekitar setengah dari batas harian yang dianjurkan, seiring mudahnya akses terhadap minuman kemasan, kopi kekinian, hingga boba.

Dalam skema Nutri-Level, kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) akan dibagi ke dalam empat kategori, yakni A hingga D. Level A berwarna hijau tua menunjukkan kandungan paling rendah, sementara level D berwarna merah menandakan kadar tinggi yang perlu dibatasi.

Selain regulasi, edukasi dinilai menjadi kunci pengendalian konsumsi gula. Zuraidah menekankan pentingnya peran keluarga dalam membentuk kebiasaan sejak dini.

“Bukan berarti tidak boleh sama sekali, tetapi kita yang mengatur. Batasi jumlahnya, perhatikan total gula seharian, dan jadikan label gizi sebagai panduan utama,” katanya.

Seperti diberitakan Detik.com, penerapan label Nutri-Level diharapkan menjadi instrumen penting bagi masyarakat dalam memilih produk pangan yang lebih sehat sekaligus menekan laju penyakit tidak menular di Tanah Air.

Gambar Gravatar
Penulis artikel kesehatan, keuangan, Islam, sepak bola, olahraga, dan prediksi bola yang menghadirkan informasi terbaru, akurat, informatif, dan mudah dipahami pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *