Loni Jadi Kota Paling Tercemar Dunia, Alarm Polusi Udara Menggema hingga Indonesia
Ilustrasi polusi udara (dok:canva)

Loni Jadi Kota Paling Tercemar Dunia, Alarm Polusi Udara Menggema hingga Indonesia

Diposting pada
Editor: Oktaliansyah

Jakarta – Kota Loni di India dinobatkan sebagai wilayah dengan kualitas udara terburuk di dunia versi IQAir 2025, dengan tingkat polusi PM2.5 mencapai 112,5 mikrogram per meter kubik atau 22 kali melampaui ambang batas aman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kondisi ekstrem ini menjadi peringatan serius bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, yang juga bergulat dengan ancaman polusi udara perkotaan.

Data IQAir menempatkan Loni di posisi teratas daftar kota paling tercemar secara global. Kota berpenduduk sekitar 700.000 jiwa itu disebut menghadapi paparan polutan dari asap pabrik, emisi kendaraan, sampah, hingga debu konstruksi yang terus membebani kualitas udara harian.

Partikel PM2.5 menjadi sorotan utama karena ukurannya sangat halus namun berbahaya. Polutan ini dapat masuk hingga ke paru-paru, bahkan aliran darah, sehingga meningkatkan risiko asma, penyakit jantung, gangguan paru-paru, kanker, hingga memengaruhi perkembangan kognitif pada anak.

Dampak kesehatan itu disebut sudah nyata dirasakan warga. Pengelola klinik di Loni, Dr Anil Singh, mengaku dalam lima tahun terakhir semakin sering menangani pasien dengan gangguan pernapasan, terutama anak-anak.

“Saya khususnya telah melihat anak-anak datang pada usia yang sangat muda dengan gejala asma dini, saya dapat dengan jelas mengatakan bahwa paparan lingkungan adalah salah satu faktor utama,” kata Dr Anil Singh, dikutip CNN World, Jumat (3/4/2026).

Kesulitan bernapas juga diakui langsung oleh warga. Pengemudi becak listrik Manoj Kumar menggambarkan situasi di kotanya sebagai kondisi yang jauh dari layak huni akibat polusi yang terus menyelimuti kawasan tersebut.

“Lupakan batuk, bernapas pun sulit di sini,” ujarnya.

Di sisi lain, warga bernama Mohammad Mohmin Khan mengaku terpaksa selalu memakai masker saat keluar rumah. Menurutnya, polusi tidak mengenal waktu dan terus terasa selama 24 jam penuh, membuat aktivitas sehari-hari menjadi tidak nyaman.

Kondisi diperparah oleh badai debu yang datang dari wilayah ibu kota Delhi. Dampaknya, kadar polutan di Loni meningkat dan menjadi ancaman lebih besar bagi kelompok rentan, termasuk anak-anak dan lansia.

Seorang ibu rumah tangga, Khushi Feroze, mengaku anaknya yang baru berusia 3 tahun kerap mengalami alergi, batuk, hingga infeksi yang diduga berkaitan dengan polusi udara. Ia juga menyebut debu masuk ke dalam rumah setiap hari dalam jumlah besar.

“Kami harus membersihkan debu di rumah kami dua hingga tiga kali sehari karena begitu banyak debu yang masuk. Anda bahkan bisa melihat debu polusi di dalam rumah,” ucapnya.

Tak sedikit warga mulai melihat satu-satunya jalan keluar adalah meninggalkan kota. Feroze menyebut keluarganya baru merasakan udara segar dan tubuh yang lebih nyaman saat berada di luar Loni.

“Kami jelas merasa jauh lebih baik ketika meninggalkan tempat ini. Terdapat banyak kesegaran di mana pun Anda pergi setelah dari sini. Kami tidak merasa nyaman di sini,” tuturnya.

Selain Loni, sejumlah kota lain di India dan Pakistan juga masuk dalam daftar 10 kota dengan udara paling tercemar di dunia versi IQAir 2025. Di antaranya Hotan di China, Byrnihat dan Delhi di India, Faisalabad, Rahim Yar Khan, Lahore, serta Sukkur di Pakistan.

Pemerintah India sebenarnya telah meluncurkan Program Udara Bersih sejak 2019, termasuk menertibkan pembangkit listrik tenaga batu bara, memasang sistem pemantauan kualitas udara, dan melarang pembakaran biomassa. Namun, para ahli menilai langkah itu belum efektif karena lemahnya penegakan hukum dan minimnya koordinasi antarlembaga.

Upaya lain seperti penyemaian awan untuk membersihkan udara ibu kota juga disebut gagal. Kebijakan tersebut bahkan sempat memicu protes warga setelah dinilai justru memperburuk paparan polutan berbahaya.

Di tengah kondisi itu, laporan IQAir juga mencatat Pakistan sebagai negara dengan udara paling tercemar pada 2025. Fakta ini mempertegas bahwa krisis polusi udara di Asia Selatan bukan lagi isu lokal, melainkan ancaman kawasan yang juga menjadi cermin bagi Indonesia dalam mengendalikan emisi industri, transportasi, dan debu perkotaan.

Gambar Gravatar
Penulis artikel kesehatan, keuangan, Islam, sepak bola, olahraga, dan prediksi bola yang menghadirkan informasi terbaru, akurat, informatif, dan mudah dipahami pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *